Home / Opini

Kamis, 24 Juni 2010 - 03:43 WIB

Solo (Seharusnya) Menjadi Barometer Sepak Bola di Jawa Tengah

Surakarta, adalah salah satu nama kota yang ada di provinsi Jawa Tengah. Dalam perkembangannya, kota Surakarta juga mempunyai nama lain yakni Solo. Solo merupakan salah satu kota terbesar yang ada di provinsi Jawa Tengah. Jika mau diurutkan, kota Solo bisa jadi menjadi kota terbesar kedua di Jawa Tengah, tentunya di bawah bayang-bayang ibu kota Semarang.

Kota Solo merupakan kota yang istimewa, selain dikenal sebagai kota batik, kota Solo juga terkenal dengan kota budaya karena di kota inilah budaya dan sejarah bangsa itu ada. Kota yang mempunyai pertumbuhan ekonomi paling pesat di tanah Jawa Tengah ini, kini telah berkembang bak menjadi kota-kota modern meninggalkan tumbuh kembangnya kabupaten atau kota-kota lain di Jawa Tengah.

Solo boleh berbangga diri dengan maju pesatnya ekonomi masyarakatnya, namun ada hal lain yang ternyata tidak bisa menjadi kebanggaan bagi masyarakat Solo dan sekitarnya. Di bidang olah raga khususnya sepak bola, nama Solo seakan tenggelam di pentas sepak bola nasional. Tapi tunggu dulu, tanpa harus muluk-muluk kota Solo sendiri juga terasa tenggelam di pentas sepak bola Jawa Tengah. Begitu miris memang jika kita harus melihat dan merunut perjalanan tim Persis Solo, klub sepak bola asli Solo, dalam mengikuti kompetisi nasional.

Prestasi terakhir yang terbilang cukup membanggakan hanyalah diukir pada kompetisi Liga Indonesia musim kompetisi 2006/2007 ketika Persis berhasil tampil di final Liga Indonesia divisi satu. Itu pun, Persis harus menerima kenyataan hanya berkutat sebagai runner up di bawah Persebaya Surabaya yang menjadi juara. Di musim berikutnya, 2007/2008, Persis tampil di kasta tertinggi kompetisi sepak bola nasional, namun Persis hanya ‘berprestasi’ gagal promosi ke kompetisi Liga Super Indonesia.

Musim 2008/2009, kembali Persis Solo hanya berkompetisi di kompetisi level kedua. Prestasi yang diukirnya kala itu adalah berhasil lolos dari jerat degradasi meski harus megap-megap berjuang di akhir kompetisi. Pada musim 2009/2010 yang baru saja usai, Persis akhirnya tidak bisa terselamatkan lagi. Bermodalkan hidup mandiri untuk mengarungi kompetisi, ternyata belum cukup bagi Persis untuk bisa mempertahankan hidupnya. Menurut peraturan, Persis harus terkena degradasi musim ini karena hanya bisa menghuni juru kunci di klasemen akhir.

Ironis sekali memang, kota dengan kemajuan ekonomi paling pesat, bangunan gedung-gedung tinggi bertingkat, pusat perbelanjaan disana-sini, ternyata tidak bisa membentuk sebuah tim sepak bola yang kuat dan tangguh dan bisa banyak berbicara di kompetisi nasional. Di tingkat Jawa Tengah, Solo terbukti kalah bersaing dengan kabupaten kecil seperti Jepara yang malah menjadi satu-satunya wakil dari Jawa Tengah yang mengirimkan klub sepak bolanya berkompetisi di Liga Super Indonesia. Apa yang salah dengan sepak bola di Solo?

Bisa dibilang, Solo terlalu melimpah dengan sumber daya manusia untuk membentuk sebuah tim sepak bola. Talenta-talenta muda penendang bola dari kota Solo terbukti mudah dijumpai di kota bengawan ini. Hal lain yang seharusnya bisa memaksa klub sepak bola Solo berprestasi adalah karena keberadaan penikmat sepak bola di Solo yang terlampau banyak. Pasoepati, sebuah wadah suporter sepak bola dari Solo ini terbilang sangat militan.

Banyaknya anggota Pasoepati yang senantiasa loyal bagi Persis Solo, seharusnya bisa menjadi nilai tambah dalam upaya kota Solo menciptakan sebuah tim sepak bola yang kuat. Apalagi, di kota Solo sendiri telah berdiri sebuah stadion Manahan Solo yang terbilang sebagai stadion termegah di wilayah Jawa Tengah. Infrastruktur stadion yang begitu memadai seharusnya bisa diimbangi dengan prestasi bagus tim sepak bolanya.

Tapi kenyataannya, apa yang terjadi sebenarnya ternyata tidak seperti apa yang dibayangkan. Tim sepak bola Solo, Persis, harus menerima cibiran dari banyak orang karena gagal berprestasi. Solo seharusnya bisa menjadi barometer sepak bola di wilayah Jawa Tengah. Kondisi kota yang sangat mendukung ditambah infrastruktur sarana dan pra sarana yang memadai, seharusnya bisa memaksa seluruh stake holder di Solo turun tangan dalam pembentukan klub sepak bola yang lebih baik dari sekarang.

Apalagi, tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa sepak bola kini telah menjadi olah raga rakyat yang paling digemari oleh masyarakat di seluruh penjuru negeri ini, tak terkecuali masyarakat kota Solo itu sendiri.

Baik para pejabat kota Solo, tokoh sepak bola, hingga masyarakat Solo pada umumnya, harusnya sudah membuka mata tentang nasib klub sepak bola kebanggaannya. Di luar sana, Solo seakan sudah ditertawakan karena prestasi buruk yang menimpa klub sepak bolanya.

Sekali lagi, apa yang salah dengan sepak bola di Solo? Kota dengan perkembangan ekonomi tercepat, kota dengan sejarah sepak bola di masa lampau, kota pemilik stadion termewah di Jawa Tengah, apakah harus memaksa menina-bobokan klub sepak bolanya dari gemerlap kompetisi sepak bola nasional?

Opini Adjiwae Onengisme

Share :

Baca Juga

Opini

10 Tahun Pasoepati Butuh Refleksi

Opini

MANAJEMEN MEMULIAKAN SUPORTER JIKA PINDAH KE STADION SRIWEDARI

Opini

[Artikel Pembaca] Suara Suporter Seharusnya Dihargai

Opini

Opini: Mbludhus Bukan Budaya Pasoepati

Opini

Andre Jaran: Seharusnya Pemain Sudah Tidur di Mess

Opini

Siapkah Persis Solo Tanpa APBD Musim Depan

Opini

Lebih Bangga Dengan Jersey Timnas

Opini

Terima Kasih Wasit, Terima Kasih ANTV