Jengah dengan kondisi yang saat ini terjadi di tubuh Persis Solo, akhirnya Pasoepati bersuara menginginkan hanya ada satu tim Persis Solo di kompetisi musim depan.

Dukungan luar biasa yang diberikan pasoepati belum sepenuhnya mendapat apresiasi positif dari pengurus Persis Solo
Hal itu diutarakan oleh presiden Pasoepati, Bimo Putranto yang mulai merasa jengah dengan kondisi yang saat ini menghinggapi tim kebanggaan masyarakat kota Solo tersebut.
“Secara pribadi saya berkeinginan pada kompetisi musim depan Persis Solo hanya satu, pengalaman musim lalu sudah cukup merugikan Persis” ujar Bimo Putranto.
Kompetisi Divisi Utama 2011/2012 mungkin akan menjadi sejarah kelam bagi persepakbolaan kota Solo, konflik yang terjadi di jajaran pengurus Persis Solo membuat tim berjuluk Laskar Sambernyawa ini untuk pertama kalinya akhirnya harus terpecah menjadi dua.
Satu tim Persis Solo bermain di kompetisi Divisi Utama Liga Prima Indonesia Sportindo, sedangkan satu tim lainya bermain di kompetisi Divisi Utama PT. Liga Indonesia.
Namun dualisme yang terjadi di tubuh Persis Solo ternyata tidak membuahkan hasil yang membanggakan, keduanya gagal mencatatkan prestasi di kompetisi yang diikutinya. Bahkan masalah gaji menjadi batu sandungan serius bagi kedua tim tersebut, masalah tunggakan gaji pemain menjadi momok serius bagi pemain Persis Solo.
Tim Persis Solo yang berkompetisi di Divisi Utama LPIS gagal mencatatkan prestasi meski didukung secara penuh oleh ribuan Pasoepati. Javier Rocca cs hanya bisa meraih posis ke delapan dari 10 tim yang berkompetisi dengan raihan 23 angka.
Hal yang sama juga dialami tim Persis Solo yang berkompetisi di Divisi Utama PT.Liga Indonesia, tim yang disokong oleh pemain muda eks Tim SAD ini juga gagal menunjukan performa terbaiknya hingga hanya berhasil finish di posisi ke 8 klasemen akhir.
Atas dasar itulah Bimo Putranto sebagai presiden Pasoepati berharap jajaran pengurus Persis Solo mau duduk bersama agar Persis Solo bisa berprestasi di musim kompetisi mendatang.
“Keduanya punya kelemahan di bidang finansial, saya heran apa alasan mereka kalau Persis tidak bisa disatukan. Apa hanya karena alasan gengsi satu atau dua orang?” tanya Bimo dengan nada penasaran.
Bimo menilai Persis Solo seharusnya bisa meraih prestasi yang lebih baik karena punya banyak potensi yang bisa dijadikan fondasi dalam membangun tim sepakbola yang maju. Mulai dari lapangan sepakbola maupun aspek suporter yang luar biasa.
“Persis punya seluruh komponen yang dibutuhkan sebuah klub sepakbola, lapangan yang bagus, SSB di Solo yang selalu menelurkan pemain berbakat serta dukungan suporter seharusnya bisa membuat tim ini lebih maju” terangnya.
“Sebagai Pasoepati saya berharap semua tokoh bola menatap kedepan dan tidak mementingkan ego dan keinginan pribadi” pungkas Bimo Putranto mengakhiri pembicaraan.


