Home / PERSIS SOLO

Jumat, 4 Juni 2010 - 08:56 WIB

Persis Riwayatmu Kini

Pengurus Persis Solo berjanji tidak akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Solo untuk membiayai kompetisi Persis Solo sebagai klub profesional, selama tetap bertahan di Divisi Utama. Namun, jika Persis terdegradasi ke Divisi I, Persis berhak mendapatkan dana dari APBD karena tidak termasuk klub profesional.

Sebelumnya, akhir Maret lalu, Ketua Umum Persis Solo FX Hadi Rudyatmo juga menjanjikan Persis Solo akan mandiri dan tidak membebani APBD Kota Solo.

Pertanyaannya, mampukah klub sepak bola di daerah bertahan tanpa dana APBD? Kenyataannya, mereka selama ini menggantungkan pendanaan operasional klub, dapat dikatakan 100 persen dari APBD karena sumber dana lainnya, seperti uang, tidak sangat sedikit.

Persis berjanji tidak akan menggunakan APBD jika tetap dapat menjadi klub profesional. Kenyataannya, meski selama ini menjadi klub profesional, baru pada musim kompetisi 2009/2010 Persis tidak mendapatkan APBD. Pada musim sebelumnya, tim berjuluk Laskar Sambernyawa ini masih menerima kucuran Rp 4,8 miliar dengan prestasi terhindar degradasi ke Divisi I.

Sekretaris Persis Solo Ruhban Ruzziyatno mengatakan, pihaknya optimistis masih bertahan di Divisi Utama jika Badan Liga Indonesia benar-benar menerapkan ketentuan profesionalisme sebuah klub menurut Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), antara lain telah berbadan hukum, tidak menggunakan APBD, dan mengelola stadion sepak bola.

Mungkin klub-klub sepak bola perlu mencontoh apa yang dilakukan Persis selama musim kompetisi 2009/2010. Ketika tidak lagi mengandalkan APBD, Persis Solo mengandalkan penjualan tiket pertandingan yang menyumbang pendapatan kotor Rp 1,5 miliar yang digunakan untuk operasional tim.

Selain itu, ada sejumlah sponsor yang berhasil digaet dengan nilai Rp 300 juta. Ini, kata Ruhban, masih ditambah dengan sumbangan tiga pemain asing dan pelatih pada paruh kedua kompetisi dari seorang pengusaha.

Rubhan boleh saja mengatakan demikian, tapi seperti yang kita ketahui sekarang, hasil penjualan tiket serta uang sumbangan dari sponsor entah kemana? hal ini dapat kita lihat dengan masih terlambatnya pembayaran gaji para mantan pemain persis.

Meski tempo hari ada pembayaran gaji, namun hal itu tidak berlaku bagi semua pemain melainkan hanya untuk 13 pemain yang masih bertahan di mess persis. Sisanya “katanya” akan dilunasi bulan juli.

Pasoepati tidak usah berharap banyak kepada Persis Solo pada musim kompetisi mendatang bila sistem pengelolaan klub yang berdiri sejak tahun 1923 tersebut masih tetap seperti ini. Jangan salahkan Persis, salahkan diri kita yang hanya mampu berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Salam Edan Tapi Mapan.


Warning: preg_split(): Unknown modifier 'p' in /home/pasoepat/public_html/wp-content/themes/Detak Terkini/functions.php on line 183

Share :

Baca Juga

PERSIS SOLO

Sigit Omponx, Siap Bernyanyi Dengan Pasoepati Tanpa Rasisme

PERSIS SOLO

DIBIDIK PSIS SEMARANG, KEMANA TEGAR PANGESTU BERLABUH MUSIM INI?

PERSIS SOLO

Jokowi : Selamat Ulang Tahun Pasoepati

PERSIS SOLO

Jadwal 8 Besar Liga 2 Resmi Mundur

PERSIS SOLO

SATU GOL PERSIS SOLO DISAWER Rp. 100 RIBU

PERSIS SOLO

Pantang Remehkan Lawan di Grup 4

PERSIS SOLO

Pasoepati, Gairah Kreatifitas Muncul Kembali

PERSIS SOLO

Batal Hadapi PPSM, Persis Fokus Hadapi Persewon