Home / Opini

Jumat, 15 Juni 2012 - 13:07 WIB

Refleksi: Suporter Irlandia yang Tak Berhenti Bernyanyi

Gdansk – Dalam kedudukan tertinggal 0-4 dari Spanyol dan pintu keluar dari Piala Eropa 2012 sudah di depan mata, para suporter Republik Irlandia melakukan hal yang luar biasa: mereka bernyanyi lantang, seolah-olah tim mereka tengah unggul 4-0 atas Spanyol.

Suporter Irlandia, melakukan hal yang sangat luar biasa dengan tetap memberikan semangat kepada timnya meski dalam keadaan ketinggalan 4 gol ( FOTO:AFP/Gabriel Bouys)

Bahwa Spanyol adalah tim yang lebih baik di lapangan, tak ada yang meragukannya. La Furia Roja menunjukkan apa yang diekspektasikan terhadap mereka sebagai juara bertahan dan juara dunia. Fernando Torres dkk. mendominasi penguasaan bola hingga Iker Casillas nyaris tidak tertangkap kamera sama sekali. Berapa catatan ball posession ketika laga berakhir? 62:38.

Kalau pun ada yang membuat Spanyol tidak bisa mencetak gol lebih dari empat, maka salah satu faktornya adalah kepiawaian Shay Given dalam memblok dan menepis tendangan. Kiper berusia 36 tahun itu bahkan menunjukkan kebolehannya ketika dengan sigap terbang ke arah kanan untuk menepis tendangan Xavi Hernandez yang hanya berdiri beberapa meter di depan gawangnya.

Selebihnya, laga benar-benar menjadi milik Spanyol. David Silva dengan leluasa berkreasi hingga akhirnya menghasilkan dua assist dan mencetak satu gol, yang didapatnya usai mengecoh dua bek Irlandia. Torres menemukan apa yang biasa menjadi makanan empuknya; suplai bola oke, dan ia akhirnya mencetak dua gol dalam laga di kota Gdansk tersebut.

Dalam kondisi yang benar-benar timpang seperti itu, Anda akan menemukan bahwa pendukung meninggalkan stadion adalah hal yang mungkin terjadi–meski tentu akan dianggap sebagai sebuah kenistaan dalam hal mendukung sebuah tim. Dalam pertandingan level klub hal ini tidak terjadi satu atau dua kali saja. Tapi, tidak demikian halnya dengan pendukung Irlandia.

Anda bisa melihat wajah-wajah getir mereka ketika menyaksikan timnya digelontor empat gol oleh “matador-matador” Spanyol. Itu hal yang wajar. Namun, mereka tak memilih untuk meninggalkan stadion dan meletakkan dukungan begitu saja. Sebaliknya, di sepuluh menit terakhir pertandingan, mereka mengantarkan kepergian Irlandia ke pintu keluar dengan bernyanyi lantang.

Lagu “The Fields of Athenry” nyaring memenuhi PGE Arena Gdansk. Para pendukung Liverpool tentu saja mengenali irama dari lagu ini karena persis dengan chant milik mereka, yakni “The Fields of Anfield Road“. Sekadar informasi, chant milik The Reds tersebut memang terinspirasi oleh lagu ini. Jika “The Fields of Anfield Road” bercerita mengenai kejayaan Bill Shankly dan Bob Paisley, lain halnya dengan “The Fields of Athenry”.

Lagu folk milik Irlandia tersebut memiliki cerita getir di dalam liriknya, namun seolah-olah tidak dinyanyikan dengan kepala tertunduk. Solmisasi vokalnya lambat-lambat menyayat, namun membuat siapa pun yang mendengar hanyut. “The Fields of Athenry” bercerita tentang seorang pria bernama Michael yang kedapatan mencuri jagung untuk keluarganya yang kelaparan hingga akhirnya harus dijebloskan ke dalam penjara. Mirip dengan latar belakang terciptanya lagu itu, yang dibuat pada masa Great Famine di Irlandia–masa-masa rakyat menderita kelaparan di era 1800-an.

Lagu itu kemudian populer di kalangan suporter Irlandia dan kerap dinyanyikan di perhelatan-perhelatan olahraga. “The Fields of Athenry” seperti menjadi pengingat untuk tetap menegakkan kepala, meski berada dalam situasi sulit sekali pun. Dan ini terasa pas, terasa selaras, pada momen yang terjadi di Gdansk pagi dinihari tadi. Sepuluh menit terakhir laga menjadi pertunjukan suporter yang megah. Bahkan komentator pertandingan pun hening sejenak.

Apa yang dilakukan oleh suporter Irlandia itu kemudian mengundang komentar dan simpati luas. “Brilian.. Brilian.. Brilian.. Para pemain Spanyol dan pendukung Irlandia,” tulis Sid Lowe, kolumnis sepakbola asal Inggris terkenal yang berbasis di Spanyol. Namun, bisa jadi, apa yang dilakukan oleh pendukung Irlandia lebih dari sekadar hal yang brilian.*

*Artikel ini semoga bisa menjadi refleksi bagi Pasoepati bahwa hakikat suporter adalah sebagai pemberi semangat untuk tim selama 90 menit permainan. (Sumber: DetikCom)

 

Share :

Baca Juga

Opini

Lebih Bangga Dengan Jersey Timnas

Opini

MANAJEMEN MEMULIAKAN SUPORTER JIKA PINDAH KE STADION SRIWEDARI

Opini

[Artikel Pembaca] Suara Suporter Seharusnya Dihargai

Opini

11 Tahun Pasoepati, Beranikah Meninggalkan Rasis?

Opini

Andre Jaran: Seharusnya Pemain Sudah Tidur di Mess

Opini

Siapkah Pasoepati Tanpa Ledakan Petasan di Stadion Manahan?

Opini

Swastanisasi Atau Buat Klub Baru?

Opini

Optimisme Pusamania Borneo FC