Home / Artikel Pembaca

Selasa, 2 Juli 2013 - 17:26 WIB

[Artikel Pembaca] Persis Solo Atau Pasoepati?

Persis Solo

Pernah suatu ketika duduk di pelataran Stadion Manahan, saya mendengar percakapan menarik diantara beberapa anggota Pasoepati. “Persis ki yen raono Pasoepati ra bakalan urip, wes to percoyo aku”,ujar salah seorang diantara mereka.

Sebuah pernyataan sederhana, namun setelah saya pikir ternyata ucapan itu mempunyai arti yang dalam. Ada benarnya juga ucapan itu, jika menilik perjalanan Persis Solo selama lima tahun terakhir maka kita tentu bisa berfikiran kalau Pasoepati seakan menjadi nafas bagi Persis Solo.

Ribuan Pasoepati yang hadir di Stadion Manahan seakan menjadi penggerak nadi klub yang dahulu pernah menjadi raja sepakbola perserikatan ini. Mau fakta? Bahkan sebuah blog sepakbola berbahasa Inggris, The Jakarta Casual memberikan gelar Supporter of The Year karena melakukan sebuah hal luar biasa yang belum pernah dilakukan suporter manapun di Indonesia. Ya, 600 an Pasoepati hadir langsung di Stadion Benteng Tangerang meskipun Persis Solo sudah dipastikan terdegradasi ke Divisi Satu.

Pasoepati memang hebat, bahkan saking hebatnya, banyak masyarakat umum yang lebih tahu Pasoepati daripada keberadaan klub yang mereka dukung. Mereka diluar Solo pasti tahu Pasoepati namun belum tentu mereka tahu Persis Solo. Sebuah potensi suporter yang sangat luar biasa.

Tergelitik dengan pernyataan, bisa apa Persis Solo tanpa Pasoepati, sekiranya suporter militan asal Solo ini mesti berfikir cerdas. Coba kita flashback 2 tahun ke belakang saat Pasoepati memutuskan untuk tidak mendukung Persis Solo versi PT.LI selama semusim penuh. Stadion Manahan benar-benar kosong melompong ketika Diego Mendieta dkk melakoni laga kandang. Tapi apakah klub tersebut bubar? Jawabnya sangat jelas, tidak bubar.

Masih ingat kisah tragis Diego Mendieta yang akhirnya meninggal di Solo ketika menunggu pelunasan gajinya? Betul, klub Persis Solo versi PT.LI terdera krisis finansial karena tidak ada pemasukan dari kedatangan suporter, namun mereka tidak lantas bubar meski tidak ada suporter.

Dalam kasus ini saya hanya menekankan bahwa suporter adalah subyek yang melekat pada klub, dan bukan memberikan pembenaran kepada mereka yang telah berbuat salah.

Atau kita bisa berkaca pada kisah tragis Singa Perbangsa Mania (Sipermania) maupun Pelita Mania (P-Man) yang akhirnya harus tenggelam atau mungkin saja bubar karena tim yang didukungnya, Pelita Karawang bermetamorfosis dengan klub Bandung Raya dan tidak lagi bermarkas di Karawang.

Sebesar apapun sebuah kelompok suporter, ketika kita bicara sepakbola, suporter adalah subyek yang melekat pada klub. Artinya, suporter itu menjadi nomor dua setelah klub itu sendiri. Jika klubya bubar maka suporter akan bubar dengan sendirinya jika tidak ada lagi klub yang didukungnya.

Lantas lebih besar mana Pasoepati dibanding Persis Solo? Jika merunut pada pernyataan suporter adalah subyek yang melekat pada klub, maka Persis Solo berada pada titik tertinggi. Klub selalu menjadi pencipta sejarah karena keberadaan pendukung akan selalu berganti. Persis Solo berdiri sejak tahun 1923 namun tetap abadi sampai saat ini, sedangkan pendukungnya terus berganti karena ditelan usia.

Namun menjadi sebuah kesalahan fatal jika sebuah klub tidak memandang dan mengacuhkan dukungan yang diberikan suporter hanya karena merasa posisinya lebih tinggi. Setidaknya suporter bukan hanya sebagai ATM berjalan ataupun pohon uang yang bisa dikeruk seenaknya. Dalam dunia sepakbola profesional, kedudukan klub selalu lebih tinggi, namun tidak akan bisa berdiri tegak atau tidak akan berprestasi tanpa dukungan suporter.

Hormat saya, Herman. Seorang Pasoepati yang berada di tribun timur Stadion Manahan.


Warning: preg_split(): Unknown modifier 'p' in /home/pasoepat/public_html/wp-content/themes/Detak Terkini/functions.php on line 183

Share :

Baca Juga

Artikel Pembaca

Oleh-Oleh Ciamis, Sebuah Cerita dari Tim Statistik Persis Solo

Artikel Pembaca

Antara “Ndeso” dan Rasisme

Artikel Pembaca

Artikel Pembaca, Mengenal Prinsip Fair Play

Artikel Pembaca

Sepak Bola Indonesia : Prestasi, Bisnis Atau Politik?

Artikel Pembaca

Artikel Pembaca: Apakah PSSI Sudah Berhasil?

Artikel Pembaca

Pasoepati Antara Loyalitas Dan Jatidiri

Artikel Pembaca

Merdekalah Sepakbola Indonesia!

Artikel Pembaca

Rasis Itu Penyakit, Bukan Seni