Home / Artikel Pembaca

Selasa, 8 Juni 2010 - 22:04 WIB

Pasoepati Antara Loyalitas Dan Jatidiri

Dalam peliputan tentang suporter di media massa ada istilah “Bad News is Good News”, dimana hanya berita kerusuhan yang bisa mengantarkan sebuah suporter masuk dihalaman pertama sebuah koran ataupun berita inti di televisi.

Tetapi  pada awal-awal berdirinya Pasoepati (di era Mayor Haristanto) jargon itu diputar balikkan dimana “Good News juga bisa dijadikan headline News”. Bagaimana aksi damai suporter Pasoepati hampir setiap hari menjadi headline News baik di media lokal maupun nasional.

Masih ingat bagaimana media lokal dan nasional membahas gebrakan Pasoepati sebagai penyebar virus suporter kreatif dan cinta damai seperti ketika mengagetkan seluruh orang di stasiun Gubeng Surabaya (6 April 2000). Mereka Kaget karena baru kali itu melihat ribuan suporter yang sangat sopan dan bersahabat. Bahkan Sugeng yang menjabat sebagai Kepala Stasiun Gubeng saat itu memuji Pasoepati, “Baru kali ini saya melihat suporter sesantun ini”.

Masih ingatkah ketika Pasoepati bisa membidani terlahirnya Slemanisti yang berevolusi menjadi Slemania saat ini, atau ketika Pasoepati diminta membantu untuk mengkoordinasi suporter PSM ke dalam The “Mad” Macz dan Pasoepati juga menjadi konsultan The Kampak (PSMS) dan Suporter PSPS Pekan Baru? Saat itu Pasoepati begitu dihormati karena dianggap sebagai satu-satunya suporter yang tidak mempunyai musuh dan selalu memberikan cinta kepada suporter lain bahkan yang tidak suka akan Pasoepati itu sendiri.

Sangat disayangkan Pasoepati sebagai sebuah organisasi suporter yang pernah menggebrak  media massa baik televisi maupun cetak karena visi, misi dan tingkah lakunya kini lebih dikenal karena seringnya meneriakkan yel-yel berbau rasis. Kini Pasoepati lebih sering menghujat dan memaki suporter lain yang dianggap musuh.

Dulu (jaman Pelita) tidak pernah satu katapun keluar dari nyanyian Pasoepati bertemakan menghujat apalagi rasis. Kata paling tidak sopan saat itu hanya “Bis-e di obong”, “ndeso-ndeso” dan “buat apa susi, susi itu tak ada sus*nya”. Tetapi saat ini tiada partai tanpa mencaci semisal, “Bonek Jan** dibunuh saja” dkk.

Sudah saatnya diadakan diskusi sehat antara Pasoepati (jaman sekarang) dengan para pendiri Pasoepati seperti Pak Mayor, dll. Kita perlu mengembalikan jati diri Pasoepati (Pelopor Revolusi Suporter Cinta Damai Indonesia)supaya kita kembali menjadi suporter yang disegani karena persahabatannya.

Aremania memang merupakan suporter kreatif pertama di Indonesia, tetapi ternyata Pasoepati malah menjadi penyebar virus cinta di seluruh suporter Indonesia. Kita tinggalkan sistem koalisi antar suporter yang justru menghancurkan perdamaian antar suporter ini.

Kita kembalikan Pasoepati yang “non blok” seperti dahulu. Jika itu terlaksana “kembali” maka, kita akan bisa saling berkunjung dan silatuhmi kepada semua suporter di seluruh Indonesia. Tidak seperti sekarang, dimana kita seperti gengsi berkunjung ke kelompok suporter “A” karena kita berteman dengan kelompok suporter “B” yang notabene bermusuhan dengan “A”.

Jika suporter lain mempunyai salam satu hati, salam satu nyali, salam satu jiwa, maka kami hanya mau mengucapkan  salam damai untuk seluruh suporter Indonesia dari kami Pasoepati di seluruh dunia.

* Artikel kiriman Handoyo Subosito, Seorang Pasoepati dan aktifis pecinta suporter Indonesia, Kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.


Warning: preg_split(): Unknown modifier 'p' in /home/pasoepat/public_html/wp-content/themes/Detak Terkini/functions.php on line 183

Share :

Baca Juga

Artikel Pembaca

[Artikel Pembaca] Persis Solo, Sebuah Candu Dalam Hidup Saya

Artikel Pembaca

Belajar Pada Suporter Blackpool

Artikel Pembaca

Crowdfunding Dinamika Satu Dekade Pasoepati

Artikel Pembaca

Berbagi Cerita di Blog Pasoepati.Net

Artikel Pembaca

[Artikel Pembaca] Bangkitlah Persis Solo!

Artikel Pembaca

[Catatan Redaksi] Menarik Minat Penonton Wanita ke Stadion, Masih Sulit?

Artikel Pembaca

[Artikel Pembaca] Unek-Unek Seorang Pasoepati

Artikel Pembaca

Antara Prinsip dan Loyalitas