Home / PERSIS SOLO

Selasa, 12 April 2011 - 11:50 WIB

Pasoepati 2000, 2010 dan 2.0

2000. Halaman kantor redaksi Solopos, Jl. Slamet Riyadi, Solo. Jumat sore, 4 Agustus 2000. Belum genap berumur satu tahun umurnya, sore itu Pasoepati menggelar acara pemberian penghargaan Pasoepati Pinastika 2000.

Untuk warga internal diterimakan kepada suku Tawon Endas (Nayu), suku Duta Sangkrah dan Pasoepati Jakarta yang dimotori Panji Kartiko dan kawan-kawan. Kelompok suporter di tanah air telah terpilih Aremania (Malang) yang didaulat sebagai guru dan sahabat Pasoepati.

Wartawan foto Ali Lufti dari harian Solopos juga memperolehnya. Ia berjasa mengabadikan aksi suku Pasoepati dengan hasil jepretan penuh ilham dan keteladanan. Pemain Pelita Solo karena empatinya yang tinggi terhadap suporternya, Indriyanto Setyo Nugroho, juga memperolehnya disertai pemberian julukan “Mr. Nice Guy” kepadanya.

Dalam upacara pemberian penghargaan tersebut nampak di matanya mengembang air mata. “Atas jasa baik yang tak terlupakan oleh setiap warga Pasoepati, baik sebagai provokator gagasan dan pamomong, kawan berdiskusi, pengeras suara, juga chronicler yang berdedikasi sekaligus sebagai kritisi yang senantiasa tulus hati mendampingi dari saat-saat kelahiran sampai derap langkah maju Pasoepati saat ini,” itulah landasan untuk memberikan Pasoepati Pinastika 2000 untuk Tabloid BOLA dan harian Solopos Solo.

Saya sebagai Menko Media dan Komunikasi Pasoepati saat itu, ketika menyerahkan piagam kepada harian Solopos yang diwakili Pemimpin Perusahaan, Bambang N. Rahadi, sempat saya katakan sesuatu. Bahwa berkat jasa Solopos telah membuat Pasoepati berkembang pesat selama setengah tahun umurnya.

Sungguh tak terduga ketika Bambang N. Rahadi membalasnya dengan ucapan bahwa kehadiran dan kiprah Pasoepati telah mampu dan berjasa mendongkrak oplah harian Solopos secara signifikan akhir-akhir ini.

Sama-sama merah. Cita-cita untuk menduniakan Pasoepati antara lain dengan ditunjukkan dalam foto ini : syal Pasoepati yang berslogan “It’s easy to be a nice guy. Follow me, Follow Pasoepati” nampak bertengger di gerbang markas tim elit Divisi Satu Belanda, PSV Eindhoven. Kini, dunia dan warga Solo menunggu kreasi-kreasi baru dari Pasoepati.[Foto : Broto Happy W.]

Pasoepati 2010

Fenomena simbiosis mutualistis antara Pasoepati dan media sepuluh tahun yang lalu itu, semoga kini tidak hanya menjadi nostalgia yang pantas untuk dikenang, tetapi juga dapat dipelajari kembali sebagai bekal melangkah ke depan secara bersama.

Penyelenggaraan Silaturahmi Akbar Pasoepati 2010 yang didukung oleh koran ini, sebagaimana dilaporkan secara serial pada edisi 28 sd 30/7/2010, masih menunjukkan semangat yang kuat keduanya untuk terus bekerja sama. Fenomena itu mengingatkan tamsil bahwa pendirian Pasoepati saat itu ibarat isi dongengan tentang sup batu.

Cerita ini pernah saya tulis di Solopos (16/1/2001). Kata sahibul hikayat, terdapat dua orang menaruh kuali besar di atas tungku yang menyala, di tengah alun-alun kota. Dalam kuali itu dimasukkan air dan sebutir batu. Sejurus kemudian dua orang itu segera mengaduk-aduk “masakan”-nya secara bersungguh-sungguh sambil bersuka ria.

Datanglah orang ketiga. Ia penasaran, ingin tahu apa yang dikerjakan oleh dua orang yang tampak aneh tadi. Segera orang ketiga itu diberitahu bahwa mereka berdua sedang memasak sup yang lezat, tetapi masakan itu masih kekurangan wortel. Orang ketiga itu pun pulang. Ia datang kembali membawa wortel yang segera dituangkan ke dalam kuali. Ia pun segera pula ikut mengaduk-aduknya.

Orang-orang berikutnya datang menyumbang kubis, loncang, seledri, garam, minyak, penyedap rasa, kaldu, daging, dan keperluan sup lainnya. Adonan itu makin lama memang terasa menguarkan aroma yang menggugah selera. Itu gambaran masa-masa awal berdirinya Pasoepati.

Ketika itu bergelombang warga Solo dan sekitarnya sepertinya tulus bersepakat untuk memberi, untuk berbagi, semuanya demi membesarkan dan memperkaya Pasoepati. Tetapi kemudian, suatu perkembangan yang mungkin wajar terjadi, sebagian warganya mulai tergerak untuk meminta imbalan atas kiprah mereka.

Ibaratnya, mereka datang masuk Pasoepati membawa modal 10 persen, tetapi ingin memperoleh imbalan 15 persen. Begitu seterusnya, yang akhirnya membuat aset Pasoepati menjadi kurus, dan boleh jadi mendekati “habis” sama sekali. Paguyuban yang seharusnya bersifat cair, sukarela, inklusif, dimana hubungan antarwarganya diikat rasa kebersamaan murni mendukung tim Pelita Solo (saat itu), dibumbui rasa bangga dan fanatisme terhadap kota tercintanya, dalam sejarah perjalanannya pernah terseok sebagai entitas bisnis yang mencari uang.

Yaitu ketika pernah didaulat sebagai panitia penyelenggara pertandingan. Sehingga saat itu dalam tubuh Pasoepati muncul perpecahan. Karena terdapat segelintir kubu suporter yang dibayar, tetapi sebagian besar merupakan suporter yang membayar (tiket masuk).

Belum lagi adanya dugaan keras upaya kooptasi partai politik tertentu yang tergiur mendulang suara dari warga Pasoepati, membuat sebagian contoh-contoh gangguan tersebut pantas diduga menjadi penyebab kehadiran Pasoepati masa kini yang seperti diungkap oleh Solopos dengan mengutip pernyataan pendiri dan mantan Presiden Pasoepati, Mayor Haristanto, sebagai kurang greget, kurang kreatif, kurang terekspos, bahkan pentolannya pun dianggap kurang memiliki rasa percaya diri dan rasa bangga sebagai warga Pasoepati.

Pasoepati 2.0

Kini warga Pasoepati harus mau berbenah diri. Pasoepati masih memiliki peluang sejarah mampu meraih sukses di masa depan. Sepuluh tahun lalu Pasoepati hadir ikut serta menguak cakrawala baru dunia suporter Indonesia, dengan sentuhan sportivitas dan kreativitas. Fase tersebut saya sebut sebagai Pasoepati 1.0.

Kini, telah tiba era Pasoepati 2.0. Di tengah badai maraknya beragam media Web 2.0., yaitu media-media sosial di Internet, dari blog, forum, Facebook, Twitter dan media sejenisnya, maka bangunan organisasi Pasoepati dan interaksi antarwarganya harus mencerminkan roh beragam media sosial itu. Yaitu egaliter, bersepakat menyuburkan keunikan tiap-tiap warganya, saling terkoneksi, dan menanamkan keyakinan bahwa sukses hanya bisa dicapai bila semua orang berpeluang sukses pula.

Saran Soewarmin, wartawan Solopos yang ikut membidani lahirnya Pasoepati, agar Pasoepati membenahi dulu internal organisasinya dan berpikir kreatif kemudian, semoga dijalankan dalam konteks Pasoepati 2.0. Pengejawantahannya adalah bahwa pimpinan organisasi Pasoepati bukan jamannya lagi sebagai godfather, tetapi sebagai hub atau pusat jaringan yang memfasilitasi lalu-lintas ide, kreasi dan isu antarwarganya.

Ide-ide terbaik kemudian disebarkan kepada warganya, yang bila dieksekusi dengan pendekatan kreatif mampu membuatnya disulap menjadi beragam komoditas untuk dipasarkan. Ketika melakukan tur-tur Pasoepati pada awal berdirinya, sebagai contoh kecil, saya senantiasa merancang tagline unik. Bahkan menyertakan pula lagu-lagu tertentu sebagai sound track tur bersangkutan.

Tujuannya adalah, pelbagai tagline atau lagu itu berpeluang diubah menjadi komoditas kreatif, misalnya beragam memorabilia. Di Facebook sekarang ini, sebagai contoh, mudah Anda temui warga Pasoepati yang menjual beragam tema kaos Pasoepati atau pun Persis Solo. Di awal Pasoepati berdiri, saat itu telah hadir pula warung/kafe Pasoepati.

Akhir kata, Pasoepati kini harus bergerak sebagai organisasi kreatif. Menjadi organisasi yang mendorong, menelurkan gagasan dan menfasilitasi warganya agar terus mau belajar. Ketika tim yang dibelanya kini, Persis Solo, terjerembab ke lembah Divisi Satu, maka tiba saatnya Pasoepati harus hadir lebih solid, lebih kreatif, juga lebih bertenaga dalam menampilkan diri.

Syukur-syukur apabila segala kiprahnya tersebut mampu menjadi daya dorong guna mengangkat kembali Persis Solo ke jenjang prestasi yang lebih tinggi. Pantas dicatat, sungguh suatu berkah bahwa Pasoepati lahir di kota yang kini semakin moncer sebagai kota yang gencar menggali potensi-potensi kreatif warganya atau pun khasanah budaya miliknya yang selama ini tenggelam atau terabaikan.

Kereta kreatif Solo sudah jauh bergerak, Pasoepati seharusnya tidak hanya menjadi pembonceng gelap atau figuran belaka, tetapi harus ikut menjadi salah satu motornya. Maukah dan mampukah warga Pasoepati menjawab tantangan jaman yang menggairahkan ini ?

Wonogiri, 23-24 Agustus 2010

Oleh : Bambang Haryanto

Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000)

Share :

Baca Juga

PERSIS SOLO

Seleksi Persis Solo: Pasoepati Hadir, Sriwedari Memerah

PERSIS SOLO

Suporter Kalau Mau Eksis, Jangan Lebay Pliiss..!!

PERSIS SOLO

Kepastian Uji Coba melawan Timnas U-19, Manajemen dan Panpel Segera Bertemu Pihak Kepolisian

PERSIS SOLO

Nasib Laga Persis vs PPSM Ditentukan Besok Pagi

PERSIS SOLO

Preview Pertandingan, PERSIS Berharap Lanjutkan Kemenangan

PERSIS SOLO

Sarasehan Suporter Se-Jawa Dimulai

PERSIS SOLO

TAK SEMUA PEMAIN NYANYIKAN SATU JIWA USAI LAGA, INI ALASANNYA

PERSIS SOLO

Perihal Badan Hukum Persis Solo, Ketua Harian PSSI Solo Tak Bisa Bedakan Aspirasi dan Intervensi