Chaos Ciamis

Sebelum kejadian di Ciamis kemarin hari, saya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan ini akan berlangsung sedemikian mengerikan. Saya malah antusias, karena inilah awayday terjauh yang akan saya tempuh, ke tanah parahyangan yang belum pernah saya kunjungi bersama Persis Solo. Ciamis yang terkenal sebagai daerah yang rapi dan bersih lagi masyarakatnya yang ramah khas orang Sunda. Belum lagi, Ciamis punya stadion yang apik dan rumput yang terawat adalah salah satu faktor mengapa saya sangat menantikan pertandingan ini dan sampai rela pegi ke daerah yang jaraknya kurang lebih 300-an kilometer dari Solo. Bagi supporter sepakbola kelas divisi utama, jarang rasanya mempunyai kesempatan untuk menyaksikan tim kebanggaanya bermain apik diatas lapangan hijau yg terawat, karena mayoritas pesertanya hanya bermodalkan stadion lawas yang tak diurus dengan maksimal fasilitasnya. Benar-benar pengalaman baru yang ingin segera saya alami waktu itu.

Saya dan 3 kawan saya, beserta sebagian supporter asal Solo lainnya menuju Ciamis menggunakan kereta Kahuripan yang berangkat dari stasiun Purwosari selepas magrib. Perjalanan berlangsung lancar tidak ada gangguan apapun. Perasaan was-was saat melewati daerah Jogja dan sekitarnya juga akhirnya hilang dengan sendirinya karena yang ditakutkan berupa ‘sambutan’ dari supporter setempat juga tidak terjadi. Setelah menempuh waktu sekitar 6 jam, kami akhirnya menampakan kaki di stasiun Ciamis selasa (16/9) dini hari disambut keramahan perwakilan supporter tuan rumah.

Sejurus kemudian saya mencari penginapan untuk sekedar beristirahat agar siang harinya bisa cukup fit untuk menyaksikan langsung game PSGC Ciamis – Persis Solo. Penginapan Budi Familia di jalan Ahmad Yani yang saya pilih, 2 kamar untuk 4 peserta rombongan saya. Hotel ini saya temukan atas petunjuk warga Ciamis yang kebetulan kami temui di jalan. Kamar yang bersih dan nyaman dan cukup murah untuk kami. Gambaran yang pas dengan kota Ciamis yang kurang lebih demikian batin saya, kota yang rapi dan bersih saat saya menyusuri jalan sampai alun alun kota sembari mencari makan malam. Setelah kenyang saya kembali ke hotel dan istirahat diselimuti udara kota Ciamis yang dingin.

Sampai juga waktu dimana saya bergegas menuju stadion Galuh yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari penginapan. Pukul 13.30 saya menuju stadion beberapa kali saling melempar salam ke supporter tuan rumah. Suasana akrab begitu terasa mengingat memang tidak ada satu hal pun yang bisa membuat kubu tuan rumah harus bertindak tidak baik ke kami yang datang dengan damai. Apalagi beberapa supporter yang datang ke Manahan tempo hari untuk mendukung PSGC bertanding melawan Persis juga mendapat sambutan yang baik.

Pertandingan akhirnya dimulai sekitar pukul 15.30. Tapi belum juga 15 menit berjalan, hal yang tak disangka-sangka pun terjadi. Keributan meledak di tribun timur yang ditempati pendukung Solo dengan kelompok supporter PSGC yang ada di tribun selatan. Akibat dari bentrokan itu, beberapa orang menjadi korban pelemparan dan harus mendapat perawatan medis. Supporter asal Solo yang pulang menggunakan kereta terpaksa mendekam di tengah lapangan sampai pukul 22.00 menunggu suasana kondusif untuk selanjutnya di antar ke stasiun Banjar yg berjaran 25 kilometer dari stadion dengan truk bantuan dari pemkab Ciamis bagi. Yang pengguna bus harus pulang dengan kondisi bus yang rusak akibat kejadian itu.

Ditengah keributan itu, saya dan satu kawan saya –karena 2 lainnya pisah dan memilih nonton di tribun timur- juga mendapat perlakuan kurang menyenangkan berupa pemukulan. Pertama memang saya merasa marah dan tidak terima, tapi hanya sebentar sebelum saya akhirnya menyesal. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Andai saja saya dan kawan tidak mengikuti emosi dengan merayakan gol Bayu Nugroho di tribun VIP yang kebanyakan warga Ciamis, pasti saya tidak dikenali sebagai wong Solo dan masih bisa melanjutkan kegiatan mencatata statistic pertandingan sampai laga usai. Bogem mentah dari salah seorang penonton juga pasti tidak mendarat di pipi kiri kawan saya. Saya mencoba memaklumi, karena saya juga merasa dongkol jika kejadian tadi berlaku sebaliknya, ketika saya berharap tim kesayangan saya menang, tapi malah kebobolan, ditambah ada orang yang seolah meledek penderitaan yg saya alami.

Sekarang tugas kita semua bukanlah terus menyimpan bara kemarahan dan dendam melainkan mencoba memadamkannya. Jangan sampai sebuah perjalanan menjadi kenangan yang buruk dan tidak membuat kita mempunyai pandangan yang lebih luas dalam melihat sebuah permasalahan. Ada baiknya kita mencoba introspeksi diri, lembah mana andhap asor, memandang dari segala sisi untuk bisa menilai kejadian ini secara obyektif dengan mengesampingkan dulu mana yang salah mana yang benar. Memang kita tidak bisa mengelak, kerugian yang dialami kubu Solo sangatlah banyak dan berat. Tapi kita juga tidak boleh memungkiri bahwa stadion kebanggaan Ciamis juga rusak akibat bentrokan kemarin.

Sejatinya sebuah perjalanan adalah pengalaman yang membuat kita menjadi lebih baik karena suatu hal yang baru itu. Untuk saya pribadi, awayday kali ini merubah cara pikir saya bahwa saya mungkin harus lebih pintar meluapkan emosi. Pepatah ‘Dimana Bumi Dipijak Disitu Langit Dijunjung’ selalu terngiang di benak saya sepanjang perjalanan pulang ke Solo. Bahwa yang terpenting lagi, lewat ritual awayday, membuka kesempatan kita untuk bisa mendapat ribuan saudara dalam sekali lawatan, bukan jutaan musuh baru akibat emosi yang tak terkontrol.

13 responses to “Oleh-Oleh Ciamis, Sebuah Cerita dari Tim Statistik Persis Solo”

  1. slopok says:

    ojo sok menggangap sporter paling hebat njuk sak geleme dewe…nek setiap tur ono gesekan kudu ngilo ,,,gitoke

  2. hary says:

    saya sebagai warga tatar galuh juga tidak ingin kejadian itu terjadi, dan saya harap ini menjadi pelajaran kita bersama,, benar kata beliau,, DIMANA BUMI DIPIJAK,DISITU LANGIT DI JUNJUNG, dan satu lagi tidak ada asap jika tidak ada api,, #salam baraya

  3. cupetong says:

    wani instropeksi diri,,

  4. aje says:

    Selalu bersama, apapun yg terjadi. .singkirkan semua yang mengganggumuu. .kita kan tetap jadi SATU. . .PERSIS SOLO IS WONDERFULL.!!!

  5. wahyoe says:

    Tetap semangat konco” Pasoepati..hal serupa pernah saya alami waktu SOLO FC bertandang ke Siliwangi thn 2002 melawan Persib..perlakuan suporter tuan rumah tidak mengenakan,tetapi semua itu ada maknanya..Pasoepati semakin dewasa dan semakin kompak,salam satu jiwa..wahyoe Pasoepati Samarinda

  6. kangtri says:

    matur sembah nuwun….

  7. fendyariss says:

    Mulat Sarira Hangrasa Wani!

  8. Sacaya says:

    Introspeksi diri wae ya cah, dr awal udah diwanti wanti jangan mencorat coret kok yo jik ngeyel wae…. Jam 3 aku yo reti dw pasoepati miloki tribun timur bagian dalam, mc nya terus mengingatkan tp ra mbok gagas. Stop vandalisme nde… Kui stadione uwong. Mgkin awal mula publik ciamis tdk respect kpd kita yo mergo pilokan kui cah.

    Mc ne nyat cerewet, tp ada kalanya mc ne bener. Mung kon mindah spanduk sing neng sisi timur we do angel eram. Nganti pertndingan rodo molor.

    Kui sitik kelakuane dw sing perlu diubah yen tour cah… Mboh enek opo mbi pasoepati musim iki tiap tour mesti enek gesekan. Rembang, kudus, semarang, magelang, ciamis. Sing salah ki awaje dw po suporter tuan rmh.. Hmmmm

  9. Sambi says:

    Mungkin alasan kenapa suporter di Inggris menggunakan kereta untuk awayday adalah kalau suatu saat ada bentrokan nggak harus ngijoli mobil/bis carteran yang rusak.

  10. invisible_pasoepati says:

    Maturnuwun pencerahannya mas..hikmah dari kejadian di ciamis kmrn adalah semoga kedepannya Pasoepati lebih dewasa dan bijak dalam menghadapi setiap kejadian yang tidak kita inginkan bersama #PasoepatiBangkit

  11. rinas riyanto says:

    Perlu introspeksi diri ….saat away rombongan kita Ada wanita,anak2&bahkan waktu d ciamis kemaren saya liat ad yg berkebutuhan khusus.untuk tmn2 lempar2an di stadion tolong kalian gx hrs menunjukn keberanian kalian dgn membalas lemparan…kalian sudah dtg d kota lain itu sudah bsa disebut berani.salut buat para dirigen yg bersatu padu saat d ciamis.

  12. aria says:

    Mantapz!!!!!
    Lanjutkan!

  13. rinas riyanto says:

    Setuju boss…saya jg dtg k ciamis.bus saya jg rusak..tp seribu tmn serasa kurang satu musuh terlalu banyak..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.