Home / Artikel Pembaca

Selasa, 15 Februari 2011 - 21:30 WIB

Merosotnya Prestasi Persis Solo

Prihatin, satu kata buat kondisi Persis Solo saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Persis Solo? Persis yang sempat terbangun dari tidur panjangnya, kini kembali dinina bobokkan. Prestasi Persis yang sempat menembus final divisi I melawan Persebaya, kini hilang kembali. Miris memang tapi itulah kenyataannya.

Kapten Tim Persis Solo ( “Poetoel” Hariadi ) terdiam lesu menerima kekalahan demi kekalahan

Persis yang notabenenya adalah klub dari kota besar yang dikenal dengan sebutan Spirit Of Java ini, sekarang sedang kehilangan “Spiritnya” untuk bangkit dari keterpurukan yakni tetap bertahan di divisi utama. Haruskah klub sebesar Persis bermain lagi di divisi satu? Ya, itulah jawaban yang pasti saat ini. Kekalahan demi kekalahan semakin memperparah keadaan Persis untuk bertahan.

Siapa yang pantas disalahkan melihat kondisi prestasi Persis saat ini?

Pemkot, masyarakat, pelatih, pemain ataukah manajemen tim yang pantas disalahkan melihat kondisi Persis saat ini? Semuanya bertanggung jawab atas melorotnya prestasi Persis. Pemkot yang disini masih menjadi pemilik dari Persis, kurang begitu memberi perhatian dengan kondisi klub dengan tidak adanya dana yang dikucurkan.

Ada alasan memang klub tidak boleh lagi menggunakan dana APBD tapi toh di beberapa daerah lain banyak klub yang masih didukung dari dana pemerintah, khususnya pemerintah daerah/kota. Mereka mempunyai banyak cara untuk mendanai jalannya klub kebanggaan daerah mereka yakni dengan cara hibah atau cara yang lainnya.

Masyarakat (Pasoepati-red) pun akan lebih senang mendukung klub yang lebih berprestasi dan selalu memberikan kemenangan. Akan tetapi masyarakat terlambat dalam merespon kondisi finansial klub yang mengalami kendala. Sumbangan dana baru diterima setelah kompetisi berjalan dan klub terpuruk. Memang terlambat tapi setidaknya ada masyarakat yang masih peduli terhadap prestasi Persis.

Ataukah mungkin ini merupakan salah satu cara untuk mematikan Persis secara tidak langsung? Persis memang tidak dibubarkan, tapi dengan tidak didanainya Persis otomatis prestasi klub ini akan menurun drastis dan terdegradasi ke level yang lebih rendah.

Dengan bermainnya Persis di kompetisi lebih rendah yang menyebabkan masyarakat enggan untuk menonton pertandingan Persis lagi dan perhatian mereka pun akan berkurang kepada klub kebanggaan kota Solo ini.

Dan tentunya managemen atau Pemkot tidak perlu lagi repot untuk mendanai tim Persis. Apalagi, sekarang kota Solo mempunyai klub baru yang mempunyai dana financial yang lebih kuat dan pemain-pemain yang lebih bagus yaitu Ksatri IX Solo FC.

Bagaimana dengan Pasoepati? Dukungan Pasoepati yang begitu besar belum bisa meningkatkan spirit pemain.

Dukungan dari Pasoepati yang begitu kuat pada awal kompetisi namun tak diikuti di tengah-tengah kompetisi. Loyalitas mereka seolah-olah luntur karena tim Persis tak kunjung memberikan poin penuh baik di kandang maupun di luar kandang.

Slogan loyalitas tanpa batas pun seolah-olah luntur karena secara berangsur-angsur sebagian dari mereka (Pasoepati) lebih memilih untuk datang mendukung Solo FC. Hanya sebagian kecil dari Pasoepati ini yang tetap loyal datang ke stadion untuk mendukung Persis Solo.

Kita harus belajar dari saudara tua Aremania yang selalu mendukung klubnya bagaimanapun keadaan klub mereka. Yang perlu dicontoh lagi mereka rela merogoh dompet mereka 25-30 ribu untuk menyokong dana finansial klub yang mengalami masalah.

Melihat dari itu seharusnya panpel menaikkan harga tiket yang dari 10.000 menjadi 20.000 atau 25.000 yang sisa dari uang tiket tersebut digunakan untuk menambah kas klub. Ini juga merupakan bentuk bukti dari loyalitas Pasoepati. Dukungan yang diperlukan saat ini tidak hanya dari nyanyian kita, tapi juga dari sokongan dana.

Manajemen pun dalam menangani tim jangan hanya setengah hati. Tidak memanfaatkan tim untuk kepentingan pribadi dan kendaraan politik tapi benar-benar murni untuk prestasi Persis.

Kita tidak tahu bagaimana proses awal manajemen merekrut pemain. Pemain yang ada saat ini belum memenuhi standar rata-rata kompetisi divisi utama. Memang hanya sebagian pemain yang layak untuk bermain di level divisi utama, tapi darah-darah muda yang lain belumlah siap untuk bersaing di kompetisi kedua di Indonesia ini.

Dari semua pengalaman yang diperoleh saat ini hendaknya menjadi guru bagi kita semua untuk kembali mengangkat prestai tim kebanggaan kita Persis Solo.

Memang diperlukan kerjasama antara Pemerintah daerah, manajemen, pelatih, pemain, masyarakat dan suporter untuk mengembalikan spirit klub dari kota “Spirit of Java” ini. Semoga di tahun yang akan datang prestasi Persis Solo bisa lebih meningkat, tentunya dengan dukungan dari semua pihak. Keep Spirit of Peace!

( Artikel kiriman dari Abdhy Fauzi J. Ngepreh, Dibal, Ngemplak, Boyolali Korwil Pasboy “Keep Spirit of Peace” )  (AO/EK)


Warning: preg_split(): Unknown modifier 'p' in /home/pasoepat/public_html/wp-content/themes/Detak Terkini/functions.php on line 183

Share :

Baca Juga

Artikel Pembaca

Pasoepati 16th: Merayakan Kebersamaan

Artikel Pembaca

Antara Prinsip dan Loyalitas

Artikel Pembaca

Turnamen PJS di Solo, Jakmania Kulonuwun ke Pasoepati

Artikel Pembaca

“Menikmati Sepakbola, Menikmati Hidup”

Artikel Pembaca

[Artikel Pembaca] Unek-Unek Seorang Pasoepati

Artikel Pembaca

Pasoepati Antara Loyalitas Dan Jatidiri

Artikel Pembaca

[Artikel Pembaca] Passion, Fanatisme dan Kegilaan

Artikel Pembaca

Berbagi Cerita di Blog Pasoepati.Net