Home / PERSIS SOLO

Selasa, 15 November 2011 - 08:01 WIB

Mengelola Klub Profesional Berbeda Dengan Klub APBD

Era baru sepakbola Indonesia sudah di mulai setelah pemerintah mengeluarkan larangan penggunaan dana APBD untuk membiayai klub sepakbola professional berkompetisi.

Diperlukan kecermatan dan planning yang tepat oleh manajemen dalam mengelola sebuah tim sepakbola professional. Manajemen sebuah klub sepakbola professional tentu akan berhati-hati dan tidak akan gegabah dalam menentukan kebijakan karena berhubungan dengan kelangsungan nasib klub.

Tentu saat ini menjadi berbeda sekali mengelola sebuah klub professional di bandingkan mengelola klub yang sumber dananya berasal dari APBD seperti tahun-tahun sebelumnya.

Berikut petikan wawancara PasoepatiNet dengan CEO PT SIMP, Kesit B Handoyo tentang perbedaan mengelola klub professional dengan klub APBD.

Pasnet: Persis Solo terkesan hati-hati dalam pembentukan tim, adakah ini karena mengelola klub APBD jauh berbeda dengan klub non APBD?

Kesit:  Selama ini sepak bola Indonesia memang sudah salah kaprah. Mau bicara sepakbola industri tapi dana yang digunakan berasal dari APBD.

Dilarangnya penggunaan dana APBD untuk klub sepakbola profesional oleh pemerintah memang menjadi pukulan berat bagi klub-klub sepak bola di Indonesia.

Suka atau tidak suka, larangan tersebut telah membuat nasib-nasib klub sepak bola Indonesia berada di ujung tanduk. Ibarat pepatah, klub-klub sepakbola Indonesia saat ini bisa disebut. “hidup segan, mati tak mau”.

Klub sepakbola profesional sejatinya ya harus diurus secara profesional. Mengurus sepakbola tidak boleh dikerjakan sambil lalu. Sepakbola bukanlah kerja sambilan.

Jika kita ingin sepakbola Indonesia maju ya harus diurus oleh orang-orang yang memang mau mencurahkan tenaga, waktu dan pikirannya hanya untuk sepakbola.

Lain halnya kalau kita hanya ingin sekadar hura-hura atau hanya menjadikan sepakbola sebagai hiburan semata, maka diurus sambil lalu boleh-boleh saja, toh hanya untuk hiburan.

Padahal, sepakbola bukan hanya sekadar hiburan, tapi juga tantangan. Kalau kita ingin maju dan ingin menjadikan sepakbola sebagai industri yang muaranya adalah prestasi  dan keuntungan, maka kita harus mau melewati proses panjang yang  tentunya tidak gampang.

Modalnya adalah kemauan untuk berbenah dengan mulai menanamkan prinsip-prinsip profesionalisme.

Kita harus mau belajar dari negara lain yang sudah maju. Nah, karena baru memulai ke arah profesionalisme, maka diperlukan sikap kehati-hatian.

Sikap hati-hati ini sangat diperlukan agar saat membangun klub profesional klub itu tidak sampai kandas karena salah dalam menyiapkan program-program pembentukannya.

Ketika klub mulai dituntut untuk mandiri dengan mencari uang sendiri, maka segala sesuatunya harus dihitung secara cermat; mulai dari pembuatan anggaran belanja pemain, operasional, sampai pada pengembangan bisnis marketing dari potensi yang dimiliki oleh klub itu sendiri.

Aksi pemain SoloFC saat mengucapkan selamat ulang tahun untuk suporternya, Pasoepati

Berbeda dengan saat apbd masih diizinkan, di mana setiap klub dengan mudahnya memanfaatkan dana tersebut karena tanpa harus memeras keringat uang dengan mudah didapat.  Sekarang di saat klub harus mencari sumber dana sendiri barulah terasa betapa sulitnya.

Tak heran jika banyak klub yang tidak siap menerima kenyataan ini. Mereka seperti kehilangan pegangan. Hanya klub yang siap dan berani  melakukan perubahanlah yang akan tetap eksis.

Pasnet: apa feedback yang manajemen harapkan dari supporter agar tim bisa meraih prestasi?

Kesit: Wajar jika suporter menginginkan timnya berprestasi. Manajemen pun ingin pula seperti itu. Akan tetapi kita harus beriksap realistis.. Melahirkan prestasi tentunya tidak mudah seperti membalik tangan.

Ada proses yang harus dilalui. Diperlukan kesabaran untuk menghadirkan sebuah prestasi. Kita baru mau membangun. Banyak pekerjaan rumah yang harus dieselaikan satu persatu dan itu harus dimulai dari bagaimana kita mengubah cara pandang pengelolaan klub agar menjadi mandiri.

Ini yang harus kita bangun dulu, syukur-syukur bisa beriringan: cepat mandiri, cepat pula berprestasi. Harus disadari, saat ini adalah masa transisi bagi klub, dimana sebelumnya klub selalu mengandalkan dana bantuan pemerintah, sementara sekarang tidak lagi.

Suporter sendiri adalah bagian terpenting dalam klub sepakbola. Suporter bisa menjadi inspirasi bagi manajemen untuk mengembangkan potensi klub.


Warning: preg_split(): Unknown modifier 'p' in /home/pasoepat/public_html/wp-content/themes/Detak Terkini/functions.php on line 183

Share :

Baca Juga

PERSIS SOLO

Laskar  Sambernyawa Lolos ke Babak Delapan Besar

PERSIS SOLO

[Galeri Foto] Persis Solo vs PSIR Rembang

PERSIS SOLO

Harga Tiket Naik, Pemasukan Panpel Mencapai 190 Juta

PERSIS SOLO

PSIR vs Persis Solo: Amankan Poin di Rembang

PERSIS SOLO

90 Lilin Untuk Persis Solo

PERSIS SOLO

Rapat Akbar Pasoepati Inginkan Persis di Liga Resmi PSSI

PERSIS SOLO

Persis Solo Di Uji Unsa-Asmi Di Stadion Sriwedari

PERSIS SOLO

PEMAIN PERSIS SOLO DILARANG BEGADANG LIHAT PERTANDINGAN PIALA DUNIA