Home / Opini

Jumat, 5 Agustus 2011 - 08:16 WIB

Kompetisi Profesional, Bagaimana Nasib Klub Asal Solo?

Workshop sepak bola Indonesia yang dihadiri oleh perwakilan Asian Football Confederatiion (AFC) Suzuki Tokuaki, Rabu (3/8) di Hotel Sahid Jaya, Jakarta yang membahas format kompetisi gabungan yang rencananya akan membetuk kompetisi baru.

Kompetisi baru ini akan melibatkan klub-klub yang layak dimasukkan dalam kompetisi tersebut yang diperoleh dari tahap seleksi dari Liga Super Indonesia (LSI) dan Liga Primer Indonesia (LPI).

PSSI akan merombak total kompetisi musim depan, dan membagi menjadi dua kompetisi: Profesional dan Amatir.

Antara Profesional dan Amatir akan ditentukan lewat sejumlah persyaratan, aspek legalitas, finansial, infrastruktur, personel dan sporting (pembinaan usia muda, perangkat pertandingan dan yang lain).

Berikut Kompetisi Profesional yang di rencanakan PSSI, yang di sesuaikan dengan kemampuan finasial masing-masing klub.

Kompetisi Profesional Level 1:

Setiap tim di kompetisi level 1 diwajibkan memiliki badan hukum berbentuk perusahaan terbatas (PT) yang bersifat komersial.

Dana deposit untuk partisipasi Rp 5 miliar, budgeting cap (pengeluaran selama satu musim) mencapai Rp 15 miliar. Syarat itu juga mengatur gaji maksimal untuk pemain lokal adalah Rp 500 juta/musim dengan durasi kontrak minimal 3 tahun.

Kuota pemain asing juga berubah yaitu 3 (non Asia) + 1 (Asia), ditambah 1 Marquee player lokal atau asing diperbolehkan bergabung tanpa batasan gaji.

Kompetisi Profesional Level 2:

Semua klub yang memilih level 2 harus memiliki badan hukum berbentuk perusahaan terbatas (PT) yang bersifat komersial.

Nilai deposit partisipasi klub sebesar Rp 2 miliar, dengan budgeting cap Rp 8 miliar. Gaji pemain lokal maksimum Rp 350 juta/musim dengan kontrak minimum 3 tahun.

Anggota Komite Eksekutif yang menangani bidang kompetisi, Sihar Sitorus, menjelaskan,  klub dari Liga Super hingga Divisi II, juga dari Liga Primer Indonesia boleh ikut mendaftar verifikasi.

Persis Solo yang sudah beberapa musim mengalami krisis finansial nampaknya akan kesulitan jika mengacu pada persyaratan yang di ajukan PSSI.

Namun, Nasib Persis Solo bisa saja berubah positif jika wacana merger dengan Solo FC bisa menghasilkan kesepakatan yang positif demi menjaga eksistensi sepakbola di kota Solo di kompetisi profesional Indonesia. (Pasnet/Asepzo/inilah.com)

Share :

Baca Juga

Opini

Opini: Mbludhus Bukan Budaya Pasoepati

Opini

Kopdar Pasoepati, Efektifkah?

Opini

Solo (Seharusnya) Menjadi Barometer Sepak Bola di Jawa Tengah

Opini

MANAJEMEN MEMULIAKAN SUPORTER JIKA PINDAH KE STADION SRIWEDARI

Opini

Siapkah Persis Solo Tanpa APBD Musim Depan

Opini

[Artikel Pembaca] Suara Suporter Seharusnya Dihargai

Opini

PERSIS SOLO TAMPIL CIAMIK, BERIKUT ANALISANYA

Opini

Dualisme Persis Berakhir Tragis, Pasoepati Inginkan Persis Solo Hanya Satu