Home / PERSIS SOLO

Kamis, 3 Juni 2010 - 00:01 WIB

Catatan Tokoh: Piala Dunia di Indonesia? Apa Kata Dunia?

Setelah puas dengan ajang kompetisi antar klub di daratan eropa, mungkin kalau boleh sedikit meramal, konsentrasi masyarakat bola Indonesia saat ini mulai terbelah mengenai Piala Dunia Afrika 2010 yang akan di gelar pada bulan Juni 2010 nanti. Berbagai macam iklan baik di media elektronik maupun media massa mulai dibanjiri dengan demam dan jargon Piala Dunia.

Seperti biasa meskipun timnas sepakbola Indonesia tidak pernah sekalipun mencicipi untuk berlaga di ajang Piala Dunia, tetapi animo masyarakat, media dan sponsor seakan tidak akan pernah kehabisan energi untuk ikut serta bergabung dalam keriuhan gelaran pesta sepakbola sejagad itu.

Media televisi bahkan beberapa tahun sebelum ajang tersebut digelar sudah berlomba-lomba untuk ikut dalam proses tender pembelian hak cipta tayangan langsung Piala Dunia Afrika 2010. RCTI dan Global TV yang masuk dalam grup media MNC, sudah memulai menularkan wabah Piala Dunia 2010 kepada pemirsanya sejak setahun sebelum turnamen tersebut dimulai. Mulai dari acara kuis, cuplikan aksi dan info seputar piala dunia hingga ajang nonton bareng acara pengundian grup peserta piala dunia.

Sejalan dengan pihak media, para sponsor pun secara gerak cepat mulai menangkap peluang akan demam piala dunia tersebut, mulai dengan melabeli produk mereka sebagai produk resmi piala dunia sampai, nonton bareng, bonus atribut sepakbola  sampai dengan merubah kemasan produk sesuai piala dunia 2010.

Dengan gerak kencang para sponsor tersebut, sebenarnya pihak media cetak lah yang paling diuntungkan dengan adanya gelaran Piala Dunia 2010 ini. Mereka dengan leluasa meraup keuntungan dari aliran dana alokasi biaya iklan, peningkatan oplah penjualan sampai dengan kerjasama dengan perusahaan telekomunikasi untuk mensuplai info terkait dengan Piala Dunia 2010.

Hal-hal tersebut diatas sebenarnya hanya sekumpulan kecil uang yang beredar di suatu Negara akibat efek tidak langsung piala dunia. Nah kalau secara logika simpel saja, bahwa Negara seperti Indonesia yang tidak ikut serta dan menyelenggarakan Piala Dunia saja dapat mengeruk keuntungan ekonomi dari efek tidak langsung Piala Dunia 2010 yang digelar di Afsel. Tentunya sebagai Negara penyelenggara Piala Dunia, Afsel akan sangat terbuka untuk mengeruk keuntungan dan pemasukan devisa yang bergelombang masuk secara konstan ke Negara tersebut.

Keuntungan Ekonomi Piala Dunia Afsel 2010.

Negara Afrika Selatan sebagai host gelaran piala dunia 2010 ini telah mengeluarkan budget anggaran 33 miliar rand (Rp 4,4 triliun) sejak 2005. Biaya tersebut akan sebanding dengan prospek keuntungan dari sisi ekonomi baik di bidang keuntungan sebagai host turnamen, peningkatan investasi maupun peluang besar peningkatan turisme mancanegara ke negara tersebut.

Sesuai dengan laporan keuangan yang di publikasikan oleh, Julio Grondona, Kepala Komite Keuangan FIFA, pemilihan Afrika Selatan sebagai penyelenggara Piala Dunia 2010 dinilai cukup tepat karena ternyata mampu meningkatkan keuntungan FIFA menjadi 196 juta dollar AS, atau sekitar Rp 1,78 triliun pada 2009.

Kalau kita mengacu pada keuntungan negara Jerman sekitar 10 miliar euro pada Piala Dunia 2006 dan Jepang sebesar 13 miliar euro (US$16,5 miliar) dari Piala Dunia 2002, maka dapat dipastikan bahwa keuntungan Afsel di Piala Dunia 2010 ini tidak akan jauh dari kisaran keuntungan yang dapat didapat dari Jerman.

Keuntungan Afsel dalam Piala Dunia 2010 ini secara kasat mata bisa didapat secara langsung dari hasil penjualan tiket dan sponsor (yang mesti berbagi dengan FIFA), peningkatan jumlah turisme mancanegara melalui para suporternya, penjualan atribut dan produk yang terkait dengan Piala Dunia 2010, peningkatan tingkat okupansi hotel, transportasi,  hasil tender hak siar televisi, peningkatan jumlah potensi lowongan kerja, dan kemungkinan bertambahnya investasi ekonomi di Afsel, atau bahkan berkembang transaksi judi bola di Afsel.

Potensi Keuntungan sebagai penyelenggara Piala Dunia tersebut hendaknya selalu dikelola dengan manajemen turnamen yang mumpuni, dengan acuan parameter analisa sebagai berikut :

Potensi Keuntungan sebagai penyelenggara Piala Dunia tersebut hendaknya selalu dikelola dengan manajemen turnamen yang mumpuni, dengan acuan parameter analisa sebagai berikut :

  1. Penanganan akan adanya kemungkinan efek atas krisis global finansial yang mulai melanda dunia sejak tahun 2008, yang pasti akan berimbas secara tidak langsung kepada gelaran Piala Dunia tersebut.
  2. Kegagalan pihak marketing tiket yang menetapkan harga jual, proses pemesanan pembelian tiket secara online maupun langsung di loket sampai dengan alokasi sebaran tiket di beberapa negara kontestan sesuai demand dan prediksinya.
  3. Koordinasi yang baik diantara pihak panitia penyelenggara dengan pihak pendukung turnamen seperti tenaga sukarelawan, wartawan, sponsor dan birokrat.
  4. Venue pendukung yang terkait dengan Piala Dunia, seperti jumlah transportasi umum yang terpadu, lokasi base camp suporter termasuk lokasi giant screen, kecukupan tingkat hotel untuk akomodasi tim dan suporter, terjamin nya utility service seperti telekomunikasi dan listrik dll.
  5. Penekanan budaya ramah tamah serta service excellent  seperti yang dilakukan oleh Panpel Piala Dunia 2002 di Jepang, patut ditiru oleh Panpel Piala Dunia di Afsel kalau ingin tingkat keluhan dan jaminan kepuasan para stakeholder turnamen tetap dijaga dengan baik.
  6. Komitmen dukungan politik yang kuat dari pemerintah dan partai politik yang ada di Afsel untuk menjaga agar situasi gejolak politik tetap dalam situasi yang kondusif.
  7. Promosi dan kampanye yang dilakukan secara terpadu antara panpel, FIFA dan sponsor agar tujuan dalam mencapai penyebaran virus demam piala dunia ke seluruh dunia dapat tercapai.

Selain 7 (tujuh) hal penting tersebut diatas, masalah Keamanan adalah salah satu hal terpenting yang tidak boleh dikesampingkan oleh para pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2010.

Identifikasi dan pengendalian Risiko Keamanan Piala Dunia 2010

Mengutip pernyataan Bheki Cele yang merupakan petinggi kepolisian Afrika Selatan, pihaknya telah mengeluarkan dana US$173 juta untuk keamanan selama Piala Dunia 2010, untuk peningkatan jumlah personil keamanan, peralatan baru, pelatihan dan biaya operasional.

Meskipun dengan persiapan yang mumpuni dengan menghabiskan dana yang cukup besar, potensi gangguan keamanan masih tetap mengintip ajang Piala Dunia 2010 di Afsel.  Tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat kriminalitas di Afrika Selatan adalah merupakan yang tertinggi di dunia yakni mengakibatkan sedikitnya 50 orang meninggal setiap harinya.

Piala Dunia juga merupakan profil yang empuk dan menarik bagi para terorisme dunia, karena dari aksi mereka jalankan akan mendapat publikasi yang maksimum ke seluruh penjuru dunia.

Tetapi hal tersebut diatas dapat diatasi dengan peningkatan koordinasi yang maksimum antar badan keamanan yang bertanggung jawab selama Piala Dunia 2010 dengan standard operation procedure yang baik mulai dari jumlah personil, penempatan petugas kepolisian di sejumlah titik rawan, ketersediaan informasi yang baik untuk para penonton dan kelengkapan peralatan seperti helikopter pemantau situasi keamanan, CCTV, kendaraan taktis penghalau bentrokan suporter dan senjata keamanan yang bersifat menghalau keributan seperti tongkat listrik, helm dan tameng pelindung dll.

Potensi kerusuhan yang diakibatkan akibat meningkatnya konstelasi politik di Afrika Selatan berdasarkan data historis sangat kecil kemugkinannya terjadi di negara tersebut karena secara perseteruan antara faksi politik tidak pernah berujung pada pertikaian yang tajam diantara massa politik.

Setelah paparan yang panjang diatas, pantas kalau kita bertanya pada diri sendiri apakah kita akan terus tersihir dalam mimpi indah Piala Dunia?. Selama ini tahapan prestasi sepakbola Indonesia bahkan malah berjalan mundur. Selama ajang piala dunia dihelat sejak 60  tahun yang lalu (Era Jules Rimet Cup Uruguay 1934) Timnas Sepakbola Indonesia tak pernah menjadi salah satu peserta, dan selalu menjadi penonton yang baik. Bahkan kalau mau jujur, bila dibandingkan dengan prestasi terdahulu, persepakbolaan nasional kita saat ini kian mengarah ke jurang kehancuran. Para pengurus organisasi sepakbola tertinggi di Indonesia (baca PSSI) lebih banyak memikirkan kepentingan per kelompok ketimbang prestasi, dan itu sejalan dengan prestasi pemain yang gemar main kasar menjurus kungfu serta suporter daerah yang gemar rusuh atas nama fanatisme semu… Nah kalau kemudian sang Ketua Umum PSSI meneriakkan program Piala Dunia 2022 tanpa prestasi timnas, persiapan politik, dana dan insfrastruktur yang baik.. mungkin malah bisa dipelesetkan menjadi joke seperti.. Hari gini masih mimpi jadi penyelenggara Piala Dunia 2022.. Apa Kata Dunia..???

Penulis

Panji Kartiko

Penasehat Suporter Pasoepati Jabodetabek dan Joglosemar

Konsultan Manajemen Risiko – Banking & Finance


Warning: preg_split(): Unknown modifier 'p' in /home/pasoepat/public_html/wp-content/themes/Detak Terkini/functions.php on line 183

Share :

Baca Juga

PERSIS SOLO

[Foto] Pasoepati Menyambut Roca di Bandara Adi Soemarmo

PERSIS SOLO

Persis Solo Pastikan Tiga Angka Dari Persitema

PERSIS SOLO

Persis vs Persibangga, Bermodal Semangat Selama 90 Menit

PERSIS SOLO

Solo FC Takluk Di Tambaksari

PERSIS SOLO

Persis Solo vs PSIS, Buktikan Laskar Sambernyawa!

PERSIS SOLO

Latihan Diliburkan Dua Hari

Galeri Foto Pertandingan

[Galeri Foto] Persis Solo dan Pasoepati di Stadion Krida Rembang

PERSIS SOLO

Persis Solo Segera Tentukan Pelatih