Suporter terbaik, pantaskah Pasoepati menyandang predikat itu? Saya rasa belum, karena menurut saya masih ada beberapa hal yang menjadi kekurangan dari suporter klub yang berdiri dari tahun 1923 ini, seperti :

A. Kedewasaan dalam menerima hasil

Apakah pantas ketika para sesepuh Pasoepati menyematkan slogan “Pasoepati penyebar virus perdamaian” sedangkan di akar rumpun Pasoepati sendiri masih akrab dengan kekerasan dengan kelompok suporter lain? Pasoepati belum dewasa dalam menyikapi hasil pertandingan, siap menang tapi belum siap seri dan kalah. Emosi selalu meledak ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai, hal itu bisa dimaklumi karena itu manusiawi, tapi tentu tidak bisa menjadi pembenaran untuk tindakan negatif yang dilakukan setelah itu.

Ambil contoh ketika Persis Solo ditahan imbang oleh Martapura FC, bentrokan dengan polisi tidak terelakkan karena suporter mencoba menyerang tim lawan, bahkan hingga mengakibatkan meninggalnya 1 korban jiwa dari pihak suporter, beredar kabar di akar rumpun Pasoepati bahwa korban meninggal karena terkena peluru nyasar dari polisi, sedangkan dari pihak polisi korban meninggal karena luka tusukan, diluar itu, sebenarnya hal itu takkan terjadi bila bentrokan sore itu tidak terjadi, bukan? Andai sore itu tak terjadi bentrok dengan polisi mungkin kita takkan kehilangan saudara kita itu, mari renungkan

B. Pasoepati masih terpecah

Anggapan bahwa anggota Pasoepati tribun selatan stadion Manahan pro bonek – viking, dan anggota Pasoepati tribun utara stadion Manahan pro aremania – the jack sudah lama terdengar. Dan memang seperti itu realitanya. Ketika ada suporter “salah masuk” pasti akan mendapat intimidasi, terutama kalau salah masuk ketika Pasoepati sedang touring seperti yang terjadi ketika mendukung Persis Jr kemarin disidoarjo, tidak perlu saya jelaskan rincianya karena menurut saya terlalu sensitif. Hal ini memang sensitif untuk dibicarakan, bahkan cenderung dihindari untuk dibahas, tapi hal ini sangat penting untuk dibahas agar Pasoepati bisa 1 suara.

Tidak ada lagi pro dan anti dengan kelompok suporter yang berbeda. Ayolah kawan, jangan kau pelihara terus aroma permusuhan itu disaat kawan kita yang lain sudah menjalin persaudaraan, beranilah bicara “Maaf saudaraku, musuhmu bukan musuhku”

C. Brand Pasoepati

Pasoepati adalah nama yang sangat menjual, bertebaran distro dan toko yang menjual pernak – pernik Pasoepati dan Persis Solo adalah buktinya. Oleh karena itu, harusnya Pasoepati sebagai Organisasi bisa memanfaatkan hal itu. Bukan malah membiarkan oknum” mengeruk keuntungan dari nama Pasoepati dan Persis Solo.

Saya pribadi gerah melihat Pasoepati dan Persis Solo dikomersialkan oleh individu dan kelompok untuk mengeruk keuntungan pribadi. Lihatlah saudaramu PSS sleman dengan PSS store yang dikelola oleh suporter dan semua kentungan masuk ke kas klub, dan mereka tidak membiarkan ada oknum” mencetak pernak – pernik klub tanpa izin mereka. Ini patut dicontoh dan jangan malu belajar. Pasoepati sebagai organisasi mematenkan nama Pasoepati dan membangun satu – satunya usaha yang menyediakan pernak – pernik Pasoepati dan Persis Solo dan semua keuntungan masuk ke kas klub, bukankah ide bagus?

Mungkin harapan saya ini takkan terwujud dalam waktu dekat, atau malah takkan terwujud selamanya? Saya cuma mencurahkan harapan dan hanya bisa berdo’a agar terjadi keajaiban, Amien.

“PJ”

Penulis adalah Mahasiswa
Universitas Widya Dharma Klaten

5 responses to “[Artikel Pembaca] Unek-Unek Seorang Pasoepati”

  1. intermerda says:

    Pasoepati samsoyo ruwet

  2. 1923 says:

    Uneg” yg membangun, good job.!!!

  3. LandSlide Beat says:

    Banyak supporter diluar yang kagum dengan Pasoepati terutama organisasi yang bagi mereka terlihat sangat rapi, tapi jujur Pasoepati saat ini bukan melangkah maju, tapi berjalan mundur.
    Semboyan “Penyebar Virus Perdamaian” yang dulu diusung seperti sudah dilupakan, seperti yang ditulis PJ, saat sebagian berusaha menyudahi permusuhan, sebagian lagi tetap memupuk permusuhan.
    Yang lebih tidak mengenakan tak kala ada omongan “oh…kae cah lor ox” “oh kae cah kidul ox”, “oh kae cah b7 ox”. Seakan – akan kita sekarang hanya boleh berdiri pada satu tribun, tak seperti dulu yang bebas berpindah2 tribun dengan tenang dan tanpa canggung.

    Kalo kita ingin slogan kita tetap “Edan Tapi Mapan” seharusnya kita berani intropeksi, atau kalau tidak slogan kita akan menjadi “edan ga mapan2”

    Pasoepati adalah saya, kamu, dia, kalian, meraka, Pasoepati adalah KITA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.