Home / Artikel Pembaca

Kamis, 9 Juni 2011 - 11:50 WIB

“Menikmati Sepakbola, Menikmati Hidup”

Sepakbola, jika dinikmati bisa menjadi penghilang stres, jika fanatisme berlebihan berakibat anarkisme

Teman semasa SMA saya yang satu ini sekarang sedang mecuri perhatian teman-temannya yang lain karena kelihaiannya menikmati hidup, walau sebenarnya nasib yang dijalaninya mau tak mau harus tidak senormal atau selayaknya temannya yang lain yang bisa menikmati bangku kuliah selepas SMA.

Namun justru ketidak biasaannya yang mengharuskan ia bekerja keras hingga berpindah-pindah tempat itulah yang kemudian membuatnya menjadi orang yang kisah perjalanan hidupnya paling layak untuk diceritakan dan dikenang daripada teman lain.

Nasib Persis Solo yang tidak senormal tim lain memang menjadi sebuah polemik di kalangan pendukung setianya, Pasoepati. Awalnya memang semua berjalan mulus, kelihaian Pasoepati menikmati sepakbola meski klub kesayangannya dalam keaadaan “tidak normal” dengan keputusan tetap mendampingi klubnya dalam suasana terburuk tahun lalu bahkan sempat menghadirkan award sebagai supporter of the year.

Begitu pula ketika pembukaan LPI, bagaimana waktu itu warga Solo dan Pasoepati gegap gempita memadati stadion manahan yang mungkin bagi sebagian kalangan dianggap tabu mendukung tim atau liga yang baru saja terbentuk, tapi nyatanya hal itu tidak berlaku bagi Pasoepati, dan bahkan secara langsung atau tidak kemudian mendapat sanjungan berbagai pihak atas sekali lagi kelihaian Pasoepati dalam menyikapi suguhan menarik sepakbola.

Namun entah mengapa belakangan waktu ini Pasoepati seakan kehilangan rasa. Nasib Persis yang tak kunjung membaik ditambah redupnya prestasi Solo FC membuat sebagian besar Pasoepati kehilangan selera menikmati hidangan sepakbola klub kebanggannya sendiri.

Tak seperti waktu lalu yang masih terlihat lihai dalam meyikapi sebuah pertunjukkan sepakbola hingga menuai berbagai pujian, kini Pasoepati mulai terlihat kendur. Puncaknya adalah ketika pertandingan-pertandingan akhir Persis Solo dan Solo FC di kandang sendiri yang tidak mencerminkan merah Pasoepati yang sesungguhnya.

Memang tidak semua Pasoepati berubah, dan bila saja semua masih percaya bahwa ditangan Pasoepati kondisi seburuk apapun bisa terlihat menjadi sesuatu pertunjukkan yang menarik, tentu pada akhirnya semua akan menjadi perjalanan yang luar biasa.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan nasib yang membawa kita ketempat dimana sekarang diri kita berpijak, yang menjadi masalah adalah seberapa “lihai” kita mampu menjalani dan menangani hal itu sehingga kemudian membuat hal apapun di sekitar kita menjadi menarik untuk diri sendiri dan terlihat keren dimata orang lain.

Omong-omong.. sekarang kawan saya berhasil me “normal” kan nasibnya seperti layaknya teman-temannya yang lain, tahun ini ia mendaftar kuliah di suatu universitas di Jakarta, tapi jangan samakanĀ  dengan teman-teman lainnya yang lebih dulu menikmati kenormalan hidup.. kejeliannya dan ketidakputus-asaanya selama berjalan di luar dunia normal membuahkan pengalaman berharga yang bisa jadi adalah modal kuat baginya untuk menjalani ketatnya dunia perkuliahan.

Bagaimana dengan kawan Pasoepati semua…
Haruskah “menyerah” pada ketidaknormalan nasib Persis ataupun Solo FC, dan berdiam diri sambil menunggu bala bantuan yang entah kapan akan datang.. atau kembali menjadi Pasoepati yang dikenal lihai menikmati indahnya sepakbola.. apapun.. kapanpun…. dimanapun…

*Never tired to be the red Pasoepati-Niko Andreyan.


Warning: preg_split(): Unknown modifier 'p' in /home/pasoepat/public_html/wp-content/themes/Detak Terkini/functions.php on line 183

Share :

Baca Juga

Artikel Pembaca

[Artikel Pembaca] Bangkitlah Persis Solo!

Artikel Pembaca

Sepak Bola Indonesia : Prestasi, Bisnis Atau Politik?

Artikel Pembaca

Antara “Ndeso” dan Rasisme

Artikel Pembaca

[Artikel Pembaca] Persis Solo Atau Pasoepati?

Opini

[Artikel Pembaca] Suara Suporter Seharusnya Dihargai

Artikel Pembaca

Tarkam Untuk Menyambung Hidup

Artikel Pembaca

[SUARA PEMBACA] ANTARA PERSIS SOLO DAN SI SAFETY PLAYER

Artikel Pembaca

Crowdfunding Dinamika Satu Dekade Pasoepati