Home / Artikel Pembaca

Sabtu, 8 Februari 2014 - 00:24 WIB

[Catatan Redaksi] Mau Dibawa Kemana Persis Solo Kami?

Pasoepati B8

Sebagai pecinta sepak bola, tentu makin risau melihat kondisi Persis Solo yang masih kesulitan biaya operasional untuk menggaji pemain dan lain sebagainya. Bahkan, jika mau jujur untuk “sekedar hidup” pun sulit mengingat sumber dana mereka masih di awang-awang. Lantas jika untuk menghidupi dirinya sendiri saja kesulitan, apakah kita bisa mengharapkan prestasi mereka dalam kancah pesepakbolaan di tanah air.

Sebenarnya, jika soal menejemen sepak bola professional sejak sekitar tahun 2007 lalu, federasi sepak bola dunia (FIFA) telah merilis aturan baru tentang lisensi klub sepak bola profesional. Aturan tersebut telah diratifikasi oleh semua konfederasi, termasuk AFC yang sudah barang tentu akhirnya aturan tersebut juga mengikat pada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) beserta klub profesional di bawahnya.

Satu hal yang menjadi catatan adalah bahwa setiap klub sepak bola “diharuskan” memiliki badan hukum. Aturan ini sepertinya selaras dengan larangan penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk membiayai klub sepak bola profesional. Sudah barang tentu, aturan tersebut diharapkan bisa menjadi payung bagi klub dalam menjalankan aktivitasnya.

Adanya badan hukum dari sebuah klub, diharapkan jika terjadi krisis keuangan di klub tersebut bisa terdeteksi sedini mungkin. Sehingga persoalan klasik, sepeprti krisis manajemen dan kebangkrutan yang berimbas pada tidak terbayarnya pemain dan lain sebagainya bisa dihindarkan. Atau setidaknya bisa disikapi jauh-jauh hari dan dicarikan solusi terbaik agar masalah yang seringkali terjadi di sejumlah klub di tanah air bisa dihindadi.

Lantas bagaimana dengan Persis Solo …? Setuju atau tidak setuju, siap atau tidak siap, industrialisasi Persis Solo harus tetap jalan. Karena kalau hanya dibiarkan apa adanya seperti sekarang ini, rasanya harapan dari masyarakat Soloraya untuk melihat Persis berjaya dan menjadi juara di kancah kompetisi nasional atau bahkan internasional hanya isapan jempol.

Apalagi jika dilihat dari sejumlah pertandingan uji coba yang digelar dua bulan terakhir, sepertinya potensi Persis sangat luar biasa. Bhayangkan saja, hanya lima kali pertandingan pihak Persis bisa mengumpulkan uang dari hasil penjualan tiket sekitar Rp. 979.225.000,-. Meski masih dipotong dengan biaya operasional seperti sewa stadion, honor tenaga, pajak dan lain sebagainya, namun pendapatan kotor yang hampir mendekati 1 miliard tersebut patut dibanggakan.

Pendapatan Laga Uji Coba Persis Solo

Minggu, 22 Desember 2013, Persis vs UiTM FC: Rp. 118,000,000

Sabtu, 4 Januari 2014, Persis vs Lions XII: Rp. 142,000,000

Selasa, 14 Januari 2014, Persis vs Persires: Rp. 190,000,000

Jumat, 24 Januasi 2014, Persis vs Persela: Rp. 234,000,000

Minggu, 2 Februari 2014, Persis vs Persikabo: Rp. 295,225,000

Total Penjualan Tiket: Rp. 979,225,000

Penjualan tiket hanya salah satu komponen dari pendapatan dari sebuah klup profesional (jika mengacu pada klub sepak bola profesional seperti di eropa). Pasalnya masih ada sejumlah komponen pendapat lainnya yang bisa dilakukan untuk menambah sumber dana bagi kelangsungan hidup Persis Solo. Misalnya, penggalian dana melalui sponsorship, penjualan merchandise dan lain sebagainya.

Di dunia ini hampir tidak ada yang gratis, apalagi sponsor yang secara suka rela memberikan dana untuk membiaya Persis tanpa kompensasi apapun. Meskipun ada, sponsor model demikian saya yakin jumlahnya sangat sedikit dan tidak mungkin bisa menutup seluruh biaya operasional dari Persis Solo. Untuk itu, pengelolaan Persis secara profesional sebagaimana layaknya sebuah industri sepak bola adalah sebuah keharusan. Profesionalisme penggalian dana, sudah barang tentu harus ditopang dengan profesionalisme dalam hal pengelolaan dan pemanfaatnya.

Sudah barang tentu, hal itu sejalan dengan rilis FIFA tahun 2007, yang mensyaratkan klub sepak bola profesional layaknya sebuah bisnis oleh perusahaan. Sebagai institusi bisnis, sudah barang tentu dalam operasionalnya Persis Solo akan mengacu pada hukum ekonomi. Untuk mencapai sebuah profit yang besar, mestinya Persis harus bisa memberikan tampilan terbaik dalam setiap laga. Tanpa tampil baik, sepertinya sulit untuk mewujudkan harapan utama dari sebuah industri sepak bola. Dalam hal ini, juara dan keuntungan ibarat dua sisi mata uang yang harus seiring sejalan dan tak bisa dipisahkan satu sama lainnya.

Ada pepatah yang mengatakan, bahwa perjalanan panjang selalu dimulai dengan perjalanan kecil. Nah dari ungkapan ini, harusnya menjadi perhatian semua pihak khususnya manajemen untuk menyiapkan konsep terbaik masa depan Persis Solo. Sudah saatnya berfikir positif dengan mengoptimalkan segala sumber daya yang dimiliki demi kemajuan klub kebanggan warga Soloraya ini.

Dalam dunia bisnis, hal yang menjadi acuan utama dalam setiap mendirikan sebuah badan usaha adalah pasar. Maksudnya, siapa yang menjadi target market dari Persis Solo ini. Kalau marketnya jelas dan memiliki peluang besar, saya kira tak perlu ditunda-tunda lagi Persis harus segera berinovasi dan menjadikan sebagai sebuah badan hukum yang dikelola secara profesional.

Koperasi Persis Solo

Lantas, badan hukum seperti apa yang layak untuk Persis Solo…? Kita tahu, di Indonesia ada dua badan hukum yang bergerak dalam aktivitas ekonomi, yakni berbentu Perseroan Terbatas (PT) dan Koperasi. Sesuai dengan UU No 40 Tahun 2017 tentang Perseroan Terbatas, yang dimaksud Perseroan Terbatas adalah adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya.

Sementara itu, jika mengacu pada UU No 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasi, maka yang dimaksud Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum Koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip Koperasi.

Dari sisi bisnis pengelolaan industri sepak bola profesional, kedua badan hukum tersebut ada sisi plus dan minusnya. Sebagai gambaran, di sejumlah negara eropa seperti di Inggris memang hampir semuanya menggunakan model Perseroan Terbatas. Sedangkan di Jerman, sebagian besar klub justru melibatkan partisipasi suporter. Namun ada juga yang menggunakan model co-operative atau koperasi, sebagaimana dilakukan di sejumlah klub sepak bola profesional di Spanyol. Sebut saja FC Barcelona, yang menggunakan basik koperasi dalam pengelolaan bisnis sepak bola mereka.

Jika melihat kedua model badan hukum tersebut, sepertinya yang layak untuk Persis Solo adalah dalam bentuk Koperasi. Jika mengacu pada UU No 17 Tahun 2012, badan hukum untuk Persis nantinya berdasar atas asas kekeluargaan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, sekaligus sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tatanan perekonomian nasional yang demokratis dan berkeadilan.

Dengan bentuk koperasi, maka pihak Persis bisa mengoptimalkan stakeholder pecinta sepak bola di kota bengawan untuk mengambil bagian atau berpartisipasi untuk kelangsungan Persis Solo. Apalagi, dalam pengambilan kebijakan nantinya badan usaha koperasi menempakan masing-masing anggota memiliki satu suara dan tidak diwakilkan. Dan inilah yang membedakan dengan pengelolaan bisnis yang menganut sistem Perseroan Terbatas. Soalnya dalam PT, banyak sedikitnya suara ditentukan oleh modal mereka yang disetor untuk perusahaan.

Meski memiliki peran yang sama dalam menyampaikan pendapat, namun pembagian laba akan ada perbedaan. Karena pembagian laba dalam koperasi dipengaruhi oleh seberapa besar modal mereka yang disertakan untuk modal koperasi. Hal inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi pihak-pihak yang ingin berinvestasi dalam industri sepak bola profesional Persis Solo. Dengan meleburnya Persis Solo dengan badan hukum koperasi ini, maka setiap anggota adalah pemiliknya dan setiap anggota adalah owner dari Persis.

Tergantung Kemauan

Jika gagasan gerakan ekonomi kerakyatan dalam pengelolaan sepak bola profesional ini bisa direalisasikan, merupakan kekuatan yang luar biasa dalam menatap persepakbolaan di kawasan Soloraya ke depan. Sebuah perubahan total dari pengelolaan sepak bola dari biaya operasional yang semula didanai oleh pemerintah, berganti masyarakat pecinta bola lah yang membiayai operasional Persis Solo.

Harus diakui untuk menjadikan wacana ini sebuah kenyataan, bukanlah hal yang mudah. Apalagi dalam perjalanan sejarahnya Persis Solo sebagai sebuah klub sepak bola profesional merupakan “milik” dari sekitar 26 klub sepak bola yang ada di Solo dan Sekitarnya. Sudah barang tentu, ke 26 klub tersebut juga memiliki tanggungjawab yang besar untuk kelangsungan Persis Solo.Paradigma lama yang selalu mengklaim bahwa Persis adalah miliknya perlu dievaluasi ulang. Karena dalam kenyataanya, tidak semua klub yang mengklaim sebagai “pemilik” tersebut memiliki kepedulian dan mengambil peran bagi kemajuan Persis. Sebut saja, saat Persis kesulitan menggaji pemain, kita tidak mendengar sebuah upaya riil dari para ”pemilik” tersebut untuk menyelesaikan persoalan ini.

Terlepas dari sejauhmana peran ”pemilik” dalam pengelolaannya, yang pasti Persis butuh sentuhan dan paradigma baru sehingga Persis Solo ke depan bisa memberikan kebanggaan bagi penggemar sepak bola di Solo dan sekitarnya. Lantas, mau dibawa kemanakah Persis Solo ke depan …? Dirubah atau tidaknya pengelolaan Persis Solo tergantung pada pada “pemilik”.

Apakah Persis Solo mau dikelola sebagaimana industri dan berbadan hukum layaknya sebuah badan usaha, atau dibiarkan seperti sekarang ini saja …? Semua tergantung kemauan “mereka”. Jika mau berubah pasti bisa terlaksana karena banyak sumber daya yang bisa dieksplorasi untuk kemajuan dan kejayaan Persis. Namun jika sudah puas dengan kondisi saat ini, ya biarkan saja. Namun jangan pernah berfikir bisa melihat Persis jadi juara karena untuk biaya operasional saja tak mungkin bisa.

Oleh: Amir Tohari:

Email: 4mirtohar@gmail.com

Penulis adalah :

1. Anggota Dewan Penasehat Pasoepati

2. Sekretaris Paguyuban Pemilik KSP Swamitra Se Soloraya

3. Divisi Humas Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Surakarta

4. Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Surakarta


Warning: preg_split(): Unknown modifier 'p' in /home/pasoepat/public_html/wp-content/themes/Detak Terkini/functions.php on line 183

Share :

Baca Juga

Artikel Pembaca

[Artikel Pambaca] Semoga Yang Terakhir

Artikel Pembaca

Pasoepati 16th: Merayakan Kebersamaan

Artikel Pembaca

“Menikmati Sepakbola, Menikmati Hidup”

Artikel Pembaca

Anarkisme Tidak Terjadi Begitu Saja

Artikel Pembaca

Imajinasi Merger Persis Solo

Artikel Pembaca

Pasoepati Antara Loyalitas Dan Jatidiri

Artikel Pembaca

[Artikel Pembaca] Kami di Belakangmu!

Artikel Pembaca

[Artikel Pembaca] Persis Solo Atau Pasoepati?