Penonton Wanita, Bisa Membantu Peningkatan Pemasukan Klub Dari Tiket

Srikandi pasoepati, selalu menghiasi tribun Stadion manahan solo, sayang jumlahnya belum mengalami peningkatan yang signifikan
Efek larangan penggunaan dana APBD untuk klub sepakbola profesional mulai tahun 2012 tentu membuat sejumlah klub kelimpungan untuk mendapatkan sponsor demi menjalankan roda keuangan klub.
Bagi klub yang mempunyai basis suporter fanatis tentu bisa memanfaatkanya menjadi sumber pemasukan keuangan klub. Pengelolaan tiket yang accountable dan terkoordinasi dengan baik tentu membuat klub lebih terbantu keuanganya.
Pasoepati sebagai salah satu suporter besar di tanah air tentu menjanjikan potensi pemasukan uang tiket yang besar untuk Persis Solo. Ribuan pasoepati yang hadir di Stadion Manahan merupakan aset yang harus di optimalkan.
Salah satu titik pemasukan tiket yang harus di perhatikan adalah mengoptimalkan hadirnya penonton wanita di Stadion Manahan Solo. Namun sayangnya pihak manajemen belum menggarap potensi ini dengan baik.
Keengganan penonton wanita hadir langsung di Stadion manahan bisa di pengaruhi banyak faktor, berikut analisis yang di peroleh dari sejumlah komentar yang masuk ke redaksi Pasnet :
1. Prestasi tim yang sedang jatuh dan tidak adanya figur pemain asing / pemain bintang yang di miliki klub.
2. Banyaknya nyanyian rasis di Stadion Manahan Solo.
3. Kurangnya rasa aman yang di dapatkan saat mereka berada di tribun terbuka yang di karenakan banyaknya penonton yang dalam keadaan mabuk yang berakibat terjadinya gesekan sesama suporter.
4. Belum optimalnya koordinasi suporter wanita di Pasoepati.
Ke empat hal di atas adalah beberapa hal yang membuat penonton wanita enggan hadir memberikan dukungan langsung ke Stadion manahan Solo dan rasanya Pasoepati sudah jauh dewasa untuk bisa meminimalisir hal tersebut.
#Silahkan menuangkan pendapat dan usulan yang sifatnya membangun, pasnet akan berusaha menyampaikan usulan tersebut ke DPP Pasoepati agar ada perbaikan.














"Aku meminta Pasoepati tetap mendukung Persis dengan bentuk kreatifitas mereka seperti bernyanyi, berteriak, koreografi dan aksi apa saja asal jangan lagi melakukan lempar-lemparan ke dalam lapangan atau lemparan ke suporter lawan. Kalau memang suporter lawan yang memulai, ya kita harus berusaha jangan sampai terpancing. Apapun yang terjadi di dalam lapangan pertandingan, jangan ada lemparan dari luar. Suporter Pasoepati harus bisa menjadi contoh kalau sepak bola yang sesungguhnya itu ada di Solo, bukan di kota lain.”
Javier Roca, gelandang serang Persis Solo.




1. Prestasi tim yang sedang jatuh dan tidak adanya figur pemain asing / pemain bintang yang di miliki klub.
2. Banyaknya nyanyian rasis di Stadion Manahan Solo.
3. Kurangnya rasa aman yang di dapatkan saat mereka berada di tribun terbuka yang di karenakan banyaknya penonton yang dalam keadaan mabuk yang berakibat terjadinya gesekan sesama suporter.
Ketiga hal tersebut bukan hanya menjadikan penontotn wanita ndak banyak yang ke stadion, penonton lainpun juga bisa semakin enggan
DEWASAKAN PASOEPATI DARI SEGALA LINI!!!
ayooo srikandi podo moro,,,hahahaha
usul… suporter wanita sing ra nganggo syal abang.. ditatar biar nyadar…. rupamu cen ayu ning yen trus nganggo syal liyo.. dadi nyepet-nyepeti moto!!!!!!
memberi batas sama saja menunjukkan kalo manahan tidak aman buat suporter perempuan…rasa aman akan muncul dengan sendirinya jika tidak lagi terjadi anarkisme diatas tribun….
ngapunten nggih dhe HArno…klubpe solo ra enek sik berprestasi sejak saat itu…
top
usul: bagaiman kalo srikandi ditempatkan didekat saya saja……………..
semua kalangan bisa menikmati tontonan sepakbola dengan rasa aman dan nyaman…
Absen.
Pasoepati & Srikandi tetep no #1.
Takkn tergantikan.
hai srikandi!! wkwkwkwk
sediakan tribun khusus srikandi pasoepati..
gangsal…
usul gmn kalau para srikandi dksh t4 khusus! misal dtribun blakang gawang tp dg pengamanan para pandega pasoepati
Srikandi
muachh
hai Tina , Trondol , Winda , Putri , Rannie , Arinda , Aprilia
wah akhirnya artikele njedul,iso pertamax sisan
pertamax