Liputan Foto Pertandingan Solo FC vs Persebaya 1927

Pertandingan big match antara Solo FC melawan Persebaya 1927 memang telah berlangsung kemarin sore. Jalannya pertandingan berlangsung ketat, tak cuma di lapangan namun juga di tribun suporter. Laga yang seharusnya di gelar di stadion Manahan Solo, akhirnya harus terusir dan digelar di stadion Gelora 10 November Surabaya.
Banyak Pasoepati yang kecewa karena laga besar ini tidak dapat dinikmati di rumah sendiri, stadion Manahan. Lebih kecewa lagi karena laga di Surabaya harus dilangsungkan pada hari Senin yang merupakan hari kerja atau hari sekolah. Lebih dari 500 anggota Pasoepati turut hadir ke Surabaya untuk menyaksikan langsung perjuangan para kstaria Solo melawan para punggawa Bajul Ijo.
Meski begitu, tak sedikit pula Pasoepati yang kecewa karena laga usiran tersebut tidak ditayangkan langsung oleh stasiun televisi. Dan untuk mengurangi rasa kecewa tersebut, redaksi Pasoepati.Net akan menampilkan beberapa foto liputan pertandingan big match kemarin sore. Semoga berkenan dengan sajian foto dari kami.

Laga big match Solo FC melawan Persebaya 1927 dipimpin oleh wasit asing asal Serbia, Goran Lekovic.

Lebih dari 500 anggota Pasoepati hadir mendukung Solo FC di stadion Gelora 10 November, Tambaksari, Surabaya. Oleh Bonekmania, Pasoepati dimanjakan dengan ditempatkan di tribun tertutup sebelah barat.

Tampak Bonekmania bisa membaur dengan Pasoepati di tribun. Meski bisa saling berkontak secara langsung, namun sepanjang pertandingan tak ada sekali pun keributan yang terjadi antara Bonekmania dengan Pasoepati.

Sebelum kick off pertandingan babak pertama, skuad Solo FC memberikan tepuk tangan untuk ratusan Pasoepati yang hadir di stadion. Meski hanya berupa riuh tepuk tangan, tapi penghargaan inilah yang bisa diberikan oleh skuad laskar Jatayu untuk para pendukung setianya.

FROM SOLO WITH LOVE #2. Kalimat yang sangat sederhana namun memiliki makna yang besar bagi hubungan Pasoepati dan Bonekmania. Pasoepati harus menunggu selama 11 tahun untuk kembali bisa hadir di stadion Gelora 10 November, Surabaya.

Pertandingan baru berjalan dua menit, Dian Fachrudin langsung menampilkan “tendangan kungfu” untuk menghalau penguasaan bola dari penyerang asing Persebaya 1927, Andrew Barisic.

Lima belas menit pertandingan berjalan, Sergey Litvinov mengalami cedera di kakinya. Sergey roboh di lapangan dan harus keluar dari lapangan pertandingan dan digantikan oleh Edy Subagya.

Empat lawan dua. Tampil di kandang sendiri, Persebaya 1927 langsung menggebrak lini pertahanan Solo FC. Untuk meredam serangan, Solo FC harus menumpuk pemainnya di jantung pertahanan. Pengawalan ketat diperagakan anak-anak Solo terhadap pergerakan pemain Bajul Ijo.

Aksi individu penyerang lokal Persebaya, Nico Susanto, berhasil merepotkan Sopian. Beruntung, tembakan jarak dekat Nico berhasil dihalau penjaga gawang Solo FC, Aleks Vrteski.

Meski bertubuh mungil, Taufiq merupakan pemain vital di lini tengah Persebaya 1927. Di pertandingan kemarin sore, satu gol berhasil dipersembahkan dari kaki mantan pemain PSIM Yogyakarta ini.

Jelas terlihat bagaimana lini belakang Solo FC tak mau kecolongan oleh aksi para pemain Persebaya 1927. Satu pemain Bajul Ijo harus dikawal ketat oleh dua pemain Solo FC yakni Edy Subagya dan Bahroni Fadli.

Pemain mungil Persebaya 1927, Rendi Irawan, nampak terjatuh di dalam kotak penalti Solo FC setelah ia kontak badan dengan David Micevski. Beruntung bagi Solo FC, wasit Goran Lekovic tidak menganggapnya sebagai bentuk pelanggaran.

Si benteng kokoh Solo FC, Slamet “BIG” Widodo, bermain lugas di pertandingan kemarin sore. Beberapa serangan Persebaya 1927, berhasil disapu bersih pemain gempal ini.

Kapten Asep Winarso, mendapat kepercayaan mengawal penyerang Andrew Barisic. Meski sukses mematikan pergerakan Barisic, gawang Solo FC akhirnya tetap jebol dua kali oleh aksi pemain lokal Persebaya 1927.

Solo FC kesulitan menciptakan peluang karena penyerang asing Solo FC selalu ditempel ketat pemain belakang Bajul Ijo. Stevan Racic frustasi karena selalu dikawal oleh pemain belakang Persebaya 1927, Michael Cvetovski.

Lagi, Slamet “BIG” Widodo menghalau pergerakan dengan bola dari Andrew Barisic. Pemain gempal Solo FC ini memang bermain bagus di pertandingan kemarin sore.

Saking frustasinya karena tak juga berhasil menciptakan peluang bagi timnya, Stevan Racic harus sampai emosi karena ia ditekel ketika tengah menguasai bola. Karena emosi yang memuncak, Stevo pun harus beradu muka dengan penyerang asing Persebaya 1927, Andrew Barisic. Beruntung, aksi provokatif Stevo tak berujung dengan kartu kuning.

Selain aksi merepotkan dari Andrew Barisic, Andik Virmansyah, Rendi Irawan dan Nico Susanto, lini belakang Solo FC juga dibuat repot oleh aksi enerjik dari gelandang sekaligus kapten tim Persebaya 1927, John Tarkpor.

Akrab melalui jejaring sosial Twitter, Andrew Barisic dan Aleks Vrteski akhirnya bisa berjumpa darat di lapangan pertandingan. Dua pemain asing asal Australia ini memang dikenal saling akrab. Tak heran jika di lapangan pertandingan, keduanya terlihat bercanda. Aleks pun hanya tertawa kecil ketika Barisic menepuk kepalanya.

Andik Virmansyah juga diturunkan oleh pelatih Aji Santoso dalam pertandingan kemarin sore. Meski masih mengikuti tahapan seleksi timnas U-23, Andik tetap dipanggil pulang untuk memperkuat tim Persebaya 1927. Sayang, tim Solo FC memilih tidak memanggil pulang Yunet Hardiyanto yang juga tengah mengikuti seleksi pemain timnas U-23.

Satu lawan satu. Lihatlah bagaiman Solo FC mengamankan lini belakangnya. Tiap pemain Persebaya 1927 selalu mendapat pengawalan ketat oleh pemain Solo FC. Bahroni Fadli menempel pergerakan Nico Susanto dan Slamet Widodo berhasil membuat Andik Virmansyah takluk di hadapannya.

Tak hanya seorang Slamet Widodo, Edy Subagyo pun sangat lugas menghalau setiap pergerakan penyerang timnas U-23, Andik Virmansyah.

Di jeda pertandingan, perwakilan Pasoepati dan perwakilan Bonekmania saling bertukar cindera mata. Pasoepati mendapatkan sebuah bendera hijau bertuliskan Persebaya 1927. Sebaliknya, perwakilan Bonekmania mendapatkan cindera mata berupa syal bertuliskan Pasoepati. Meski cindera matanya berupa barang yang sederhana, namun makna yang terkandung sangatlah luar biasa. Simbolisasi perdamaian antara Pasoepati dengan Bonekmania justru diawali di Tambaksari, Surabaya.

SOLO FC 0 – 2 PERSEBAYA 1927. Kalah bukan berarti kami harus rusuh, terlebih kalah dari tim asal Surabaya. Apapun hasil pertandingannya, Pasoepati telah berbesar hati menerimanya.
Fotografer : Adjiwae Onengisme














"Aku meminta Pasoepati tetap mendukung Persis dengan bentuk kreatifitas mereka seperti bernyanyi, berteriak, koreografi dan aksi apa saja asal jangan lagi melakukan lempar-lemparan ke dalam lapangan atau lemparan ke suporter lawan. Kalau memang suporter lawan yang memulai, ya kita harus berusaha jangan sampai terpancing. Apapun yang terjadi di dalam lapangan pertandingan, jangan ada lemparan dari luar. Suporter Pasoepati harus bisa menjadi contoh kalau sepak bola yang sesungguhnya itu ada di Solo, bukan di kota lain.”
Javier Roca, gelandang serang Persis Solo.




PASOEPATI-BONEK
KITA SODARA
wah fotonya sipp sipp dah pasoepati sak lawas.e
josssssssss
maturnuwun dulur bonek. Ora rugi adoh adoh soko Bekasi, tekan suroboyo dijamu dengan baik. Jaga terus perdamaian Solo Suroboyo. Sing ra gelem damai, mending diam saja. Rasah rusuh. Ngisin ngisini Solo
Kalah koneksi ki enek hubungane mbek awak pegel po gak ya??????
TERIMAKASIH AAN ,, TELAH MENGIBARKAN BERDERA BOYZ DI TAMBAKSARI
pokonya putaran kedua harus di solo,biar adil boss pisssss…..D
10 besar gak popo.nggo tombo awak pegel kbeh.
Salam damai pasoePati.
garis miring ngahhaaaaaaaa
kalah meneh.
pertamaaxxx.,,..,5 besar kah.,.,salam


dyarrr Ora Damai Ora
keduaxx
josssssssssssss
pertamax kah? Bawahku mahoo..